Friday, October 28, 2005
My Life As a Dog (Mitt liv som hund-1985)
Kisah Ingemar, bocah laki-laki yang tinggal bersama paman dan bibinya disebuah desa di Swedia. Meski sangat menyayangi ibunya, Ingemar dan kakak laki-lakinya, sering kali begitu nakal sampai membuat sakit yang diderita ibunya bertambah parah. Ketika ibunya harus dirawat di rumah sakit, saat itulah Ingemar harus berpisah dengan kakak laki-lakinya yang ikut dengan pamannya yang lain, juga anjing kesayangannya yang diurus oleh tetangga yang menjaga rumahnya. Kehidupan desa yang jauh berbeda dengan kehidupan kota, membuat Ingemar harus beradaptasi dengan semuanya. Dan ketika ibunya akhirnya meninggal, Ingemar mesti menghadapi kesedihan itu dengan caranya sendiri.
Thursday, October 27, 2005
25th Hour (2002)

Directed by Spike Lee Writing credits (WGA) David Benioff (novel) David Benioff (screenplay)
Cast overview, first billed only: Edward Norton, Philip Seymour Hoffman, Barry Pepper, Rosario Dawson, Anna Paquin, Brian Cox, Tony Siragusa, Levani Outchaneichvili
Can you change your whole life in a day?
Monty Brogan hanya punya waktu 25 jam, sebelum masuk penjara karena perdagangan obat bius yang dilakukannya. Selama 25 jam, monty berusaha merenungkan kembali kehidupannya dan mencari siapa sesungguhnya yang menjebak dia hingga masuk penjara. Apakah Naturelle Rivera (Rosario Dawson), kekasihnya, atau dua orang sabahatnya: Frank Slattery (Barry Pepper) dan Jakob Elinsky (Philip Seymour Hoffman). Meski tema terkesan biasa, namun Spike Lee sang sutradara, menggarapnya menjadi kisah yang menarik tanpa terjebak dalam kisah klise yang mudah ditebak akhir ceritanya. Kekuatan akting menghidupkan karakter tokoh-tokohnya dan membuat penonton berpikir kembali arti persahabatan, kesalahan-kesalahan di masa lalu dan masa depan yang membentang di depan.
Wednesday, October 26, 2005
Ratcatcher (1999)

Directed by Lynne Ramsay Writing credits Lynne Ramsay
Cast overview, first billed only:
William Eadie, Tommy Flanagan, Mandy Matthews, Michelle Stewart, Lynne Ramsay Jr., Leanne Mullen, John Miller, Jackie Quinn, James Ramsay, Anne McLean, Craig Bonar, Andrew McKenna, Mick Maharg, James Montgomery, Thomas McTaggart
Kisah James, anak laki-laki yang tak sengaja menenggelamkan temannya dalam sebuah perkelahian di tepi kanal di Glasgow, pada musim panas, 1973. James kemudian hidup dengan rasa bersalahnya, di tengah-tengah keluarga dimana ayahnya seorang pemabuk, ibu juga saudara perempuannya dengan kehidupan yang serba pas-pasan.
Friday, October 21, 2005
The Ballad of Jack and Rose (2005)
Credited cast:
Camilla Belle, Daniel Day-Lewis, Catherine Keener, Ryan McDonald, Paul Dano, Jason Lee, Jena Malone, Beau Bridges, Susanna Thompson
Jack (Daniel Day-Lewis), memutuskan hidup terpencil di sebuah pulau bersama putrinya yang berusia 16 tahun Rose (Camilla Belle). Jack sengaja melindungi Rose dari pengaruh dunia luar. Namun saat Rose beranjak dewasa, ia mulai mempertanyakan banyak hal yang tak bisa dijawab Jack. Sampai semuanya menjadi tak terkendali. Jack mesti menerima kenyataan bahwa Rose tak bisa terus steril dari pengaruh luar dan menghadapi kenyataan, Jack yang sekarat tidak akan hidup selamanya bersama putri yang sangat dia sayangi.
Thursday, October 20, 2005
21 Grams (2003)

Directed by Alejandro González Iñárritu Writing credits (WGA) Guillermo Arriaga (written by)
Cast overview, first billed only: Sean Penn, Naomi Watts, Danny Huston, Carly Nahon, Claire Pakis, Benicio Del Toro, Nick Nichols, Charlotte Gainsbourg, John Rubinstein, Eddie Marsan, Loyd Keith Salter, Antef A. Harris, Melissa Leo. Marc Musso, Teresa Delgado
How much does life weigh?
Cerita tentang tiga orang: Paul Rivers (Sean Penn), Jack Jordan (Benecio Del Toro) dan Christina Peck (Naomi Watts). Ketiganya terhubung dalam satu peristiwa tabrak lari yang menewaskan suami dan dua anak perempuan Christina. Jack sebagai pelaku tabrak lari dan Paul menjadi orang yang mendapat donor jantung dari mendiang suami Christina. Seperti film Inarritu sebelumnya, Amores Perros, ia menjalin cerita seperti menyusun puzzle. Perubahan karakter setiap tokoh, mengalir seiring dengan kepingan-kepingan puzzle yang tersusun menjadi satu gambaran yang utuh. Kebenaran akan Cinta, gairah, kejujuran, keberanian dan rasa bersalah lah yang kemudian merubah kehidupan tokoh-tokohnya selamanya.
Wednesday, October 19, 2005
Magnolia

Directed by Paul Thomas Anderson Writing credits (WGA) Paul Thomas Anderson (written by)
Cast overview, first billed only:
Tom Cruise,Pat Healy,Julianne Moore,Genevieve Zweig, Mark Flannagan, William H. Macy, Neil Flynn, Philip Seymour Hoffman, Rod McLachlan, Allan Graf, Melora Walters, Philip Baker Hall, Patton Oswalt
Things fall down. People look up. And when it rains, it pours.
Studi tentang sembilan kisah kehidupan dalam satu hari di Lembah San Fernando, California. Semuanya terhubung dalam satu tayangan televisi bertajuk “What Do Kids Know” (WDKK).
Earl Patridge (Jason Robards), produser WDKK, sekarat karena kanker di otak dan jantungnya. Perawatnya, Phil Parma (Philip Seymour Hoffman), mencoba menghubungi anak laki-laki Earl, Frank T.J. Mackey (Tom Cruise) yang selama ini diterlantarkan Earl. Linda (Julianne Moore), merasa benar-benar jatuh cinta pada Earl setelah ia menghianati dan memanfaatkan Earl selama ini. Dilain pihak, Jimmy gator (Philip Baker Hall) pembawa acara WDKK mesti mengakui kesalahan telah melakukan pelecehan seksual pada anak perempuannya, Claudia (Melora Walters), meski Jimmy sedang sekarang karena kanker yang dideritanya. Sementara Jim (John C. Reilly), polisi yang mendatangi rumah Claudia karena pengaduan tetangga Claudia yang merasa terganggu perilaku Claudia, jatuh cinta pada pandangan pertama. Stanley Specter (Jeremy Blackman), salah satu perserta kontes WDKK dipaksa ayahnya untuk mengalahkan rekor Donny Smith (William H. Macy) yang dipecahkan Donny ditahun 1968, saat dirinya masih kanak-kanak dulu. Jalinan antara kehidupan satu tokoh dengan tokoh lainya dirangkai dengan sangat baik dengan ilustrasi musik dan vokal garapan Aimee Mann dan kejutan hujan kodok di tengah-tengah film.
Friday, October 14, 2005
Closer

Directed by Mike Nichols Writing credits (WGA) Patrick Marber (play) Patrick Marber (screenplay)
Complete credited cast: Natalie Portman, Jude Law, Julia Roberts, Clive Owen
If you believe in love at first sight, you never stop looking.
Mengambil setting di London, Dan Wolf (Jude Law), penulis gagal dan Alice Ayres (Natalie Portman), penari striptise, saling jatuh cinta saat keduanya bertemu tak sengaja dalam kecelakaan mobil. Setahun kemudian Dan jatuh cinta pada Anna Cameron (Julia Robert) seorang fotografer, namun Anna menolak cintanya. Dan menggunakan identitas Anna dalam rangka balas dendam, dalam sebuah ceting mesum dengan seorang dokter Larry Bagley (Clive Owen) dan menjebak mereka untuk kopi darat. Namun Anna dan Larry saling jatuh cinta. Sampai suatu saat Dan yang tak pernah menyerah dengan perasaan cintanya pada Anna, kembali mendekati Anna dan membuat hubungan dua pasangan ini berantakan dan mulai menyakiti satu sama lain.
Thursday, October 13, 2005
Mind the Gap (2004)

Directed by Eric Schaeffer Writing credits Eric Schaeffer
Cast overview, first billed only: Alan King, Elizabeth Reaser, Eric Schaeffer, Christopher Kovaleski, Charles Parnell, Jill Sobule, Kim Raver, John Heard, Todd Weeks, Mina Badie, Deirdre Kingsbury, Yolonda Ross, Dolores McDougal, Stan Berger
Siapa pun yang menyukai film garapan Paul Thomas Anderson, Magnolia, pasti akan menyukai film ini. Beberapa karakter yang ditampilkan nampak tak berhubungan satu sama lain atau dikenal dengan ‘convergence genre’. Genre ini kemudian diulang oleh Eric Schaeffer dalam menggarap Mind The Gap yang dalam ungkapan orang Inggris berarti selamat tinggal. Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depan. Herb, duda tua yang hidup dengan kenangan-kenangan masa kecilnya. Jody, gadis cantik pengamen jalanan yang menderita kelainan jantung, berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah menginjakan kaki di manhattan kecuali untuk manggung. Malissa yang tak bisa pergi kemana pun dia suka karena harus mengurusi ibunya yang sekarat dan membencinya. Malissa membayangkan dirinya keliling dunia dengan mendengarkan rekaman suara-suara dari tempat-tempat menarik yang dikirim oleh sahabat-sahabat penanya di seluruh dunia. John terperangkap dalam kesendiriannya, mencoba bunuh diri karena terpisah dari anaknya dan rasa bersalah telah menghianati kepercayaan istrinya. Sam, tak bisa memaafkan kekasihnya, Allison yang meninggalkannya di altar di hari perkawinan mereka.
Wednesday, October 12, 2005
Things You Can Tell Just by Looking at Her (2000)
cast overview, first billed only: Glenn Close, Cameron Diaz, Calista Flockhart, Kathy Baker, Amy Brenneman, Valeria Golino, Holly Hunter, Matt Craven, Gregory Hines, Miguel Sandoval, Noah Fleiss
A man only sees what a woman wants him to know
Antologi lima cerita yang mengisahkan lima perempuan yang berbeda dalam mengurusi kehidupannya. Cerita pertama “This is Dr. keener” berkisah tentang bagaimana Dr. Keener menyadari kehilangan hidupnya ketika dia harus mengurusi ibunya yang sudah tua. Kisah kedua berjudul “Fantasies About Rebecca”, menampilkan Holly Hunter sebagai manajer bank yang menghadapi masalah dengan kehamilan yang tak direncanakan, kekasihnya yang gila kerja, dan perempuan gelandangan yang lebih tahu tentang dirinya daripada rebecca sendiri. Cerita ketiga” “Someone for Rose”. Rose yang diperankan oleh Kathy Baker seorang ibu yang menghadapi dilema atas perasaan spesialnya pada lelaki cebol yang tinggal di seberang rumahnya. “Goodnight Lily, Goognight Christine,” Calista Flockhart berprofesi sebagai pembaca tarot, mesti berjuang menghadapi kekasih lesbinya yang sedang sekarat. Cerita terakhir “Love Waits for Kathy” tentang dua orang kakak beradik yang sama-sama menjalani kesepiannya dengan cara mereka masing-masing.
Friday, October 07, 2005
Dear Frankie (2004)

Directed by Shona Auerbach Writing credits Andrea Gibb
Cast overview, first billed only:
Emily Mortimer, Jack McElhone, Mary Riggans, Sharon Small. Sophie Main, Katy Murphy, Sean Brown, Gerard Butler
Berkisah tentang Frankie, 9 tahun yang tak pernah bertemu ayah kandungnya dan ibunya Lizzie. Mereka menjalani kehidupan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain sepantang pesisir Scotland. Lizzie bermaksud melindungi Frankie yang tuna rungu dari kenyataan bahwa lizzie sebenarnya melarikan diri dari suaminya atau ayah kandung Frankie. Lizzie kemudian berpura-pura menuliskan surat yang mengatas namakan ayah Frankie, untuk membuat Frankie percaya bahwa ayahnya memperhatikan dirinya. Sampai kemudian Lizzie memutuskan menyewa orang asing untuk berpura-pura menjadi ayah Frankie untuk satu hari saja.
Thursday, October 06, 2005
Respiro (2002)
Credited cast: Valeria Golino, Vincenzo Amato, Francesco Casisa. Veronica D'Agostino, Filippo Pucillo, Muzzi Loffredo
Grazia, ibu tiga anak yang menghabiskan hari-harinya bekerja di tempat pengepakan ikan di saat suaminya Pietro yang nelayan, pergi mencari ikan. Kondisi kejiwaan Grazia yang tak stabil, membuat suaminya berpikir bahwa Grazia membutuhkan perawatan medis dan Pietro berniat mengirim Grazia ke rumah sakit jiwa di Millan. Bagi Grazia hanya Pasquale, anak mereka yang paling mengerti dirinya di banding yang lain. Untuk itu Pasquale membantu menggagalkan rencana ayahnya untuk mengirim ibunya ke rumah sakit jiwa.
Dengan setting di desa nelayan, Italia, Respiro menampilkan perasaan keterasingan seorang Grazia, di antara orang-orang yang mencintainya tapi sekaligus tak bisa memahami dirinya.
Wednesday, October 05, 2005
Last Time I Committed Suicide (1997)

Directed by Stephen T. Kay Writing credits Neal Cassady (letter) Stephen T. Kay 92 min
Cast overview, first billed only: Thomas Jane, Keanu Reeves, Adrien Brody, John Doe, Claire Forlani
Life is what happens when you're busy making plans
Sutradara Stephen Kay, mengadaptasi surat-surat Neal Casidy, teman sependeritaan Jack kerouac (beat generation writer) sekitar 50 tahun lalu. Neal menulis dalam suratnya mengenai keinginannya untuk keluar dari pekerjaannya dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis. Namun Casidy lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat billiard bersama pecundang setempat bernama Harry (diperankan Keanu Reeves) yang memberinya pengaruh buruk dan membuat Neal semakin terperangkap pada banyak masalah. Mengambil setting akhir tahun 40-an dan 50-an awal, film ini jadi dokumentasi kehidupan penulis di era beat generation Amerika. Ilustrasi musiknya digarap oleh Tyler Bates dengan menampilkan komposisi swing dan beebop jazz seperti alur ceritanya.
Sunday, July 17, 2005
The Legend 1900

It is the turn of the century and aboard the passenger ship “The Virginian”, Danny Boodman (Nunn) discovers an orphan boy, whom he decides to raiss as his own son, dubbing him ‘Danny Boodman T.D.Lemon Nineteen Hundred’. 1900 is subsquently hidden on the ship as Danny fears the authorities will take the boy from him and grows up never once setting foot on land.
After his adoptive father’s accidental death, the boy discovers the piano - and is immediately able to play an amazing blend of jazz and ragtime with no training - a child prodigy, with inate ability. The adult 1900 (Roth) makes chums with a new addition to the ship band, Max (Taylor Vince), who is astounded at the pianist’s ability, and fomr there on constantly attempts to convince 1900 of the amazing career he might have if he left ship.
However 1900 is not to be convinced and stays long after Max
disembarks prior to World War II. By a series of fateful events, Max rediscovers “The Virginian” at the end of the war, a disused hospital ship that is about to be demolished. Certain 1900 is still living on the vessel, he hunts for him on board in the hours just prior to the ship being blown up in the hope that he will convince his friend to finally leave.
Many will have seen Giueseppe Tornatore’s academy award winning,
“Cinema Paradiso” and no doubt go into “The Legend...” with
expectations of a similar high quality film. Unfortunately, despite some strong elements that certainly provide some very nice celluloid moments, the film as a whole doesn’t quite go the distance.
The story itself is interesting and ‘fairytale-like’, with the
sceenplay being adapted from the theatrical monologue “Novecento” by Alessandro Baricco. As a stage monologue, I could see this working very well as so much of the script has a “one-man’s tale” feel to it - in fact much of it essentially narrated by Vince Taylor. On screen however this doesn’t translate so well. The skipping back and forth between Vince Taylor’s accidental discovery about the fate of “The Virginian” and the story of 1900, is an oft used device - a kind of race against time to tell the story before some fateful encounter or event might occur. This is a neat way to try and keep the audience in, but in a tale such as this, there is a central problem - the core premise of the film, being 1900’s inability to leave the ship tied in with his amazing piano ability, is too easily covered Thus, these themes were played and replayed over and over, which wasn’t enough to keep one absolutely inside the story.
Another flaw was some of the holes in the script/plot - how could 1900 exist so long onboard ship, entertaining cruise after cruise, and yet not until Max’s arrival have anyone try and convince him to leave the ship...and also be on board so long and not meet a love interest, or at least have wealthy dowagers after him for his looks and ability? There is also no sign of anyone in authority attempting to come onboard and investigate his background. ‘Minor’ issues these maybe, but to offer a water tight plot they should have been addressed earlier or at least explained away in some way.
There are certainly some nice cinematographic moments - the opening scene with the immigrants approaching America, and the reflection of New York in someones eyes...the ‘roving piano’ scene when Max first meets 1900...the piano duel...the scene where 1900 relates how he plays his music according to the people around him (nicely scripted also!)...the gramophone ‘hunt’ for 1900 in the closing stages of the film. These are offset by, of all people, James Cameron! Why? Because after a gargantuan effort like “Titanic”, it was difficult not to compare the two films when it came to sea faring scenes and it probably would have been a safer bet for Tornatore to steer clear of ‘big ship effects’ as they tended to look somewhat ‘cheap and tacky’.
The actors are all of a relatively high standard. The movie is
clearly a two hander between Roth, who is engaging and endearing, yet also eerie at points, in his childlike portrayal of 1900, and Vince Taylor (watch out for that scary eye movement and surely it’s difficult to miss the resemblance to Orson Welles) who I felt was sometimes a little caught up in over playing certain emotional moments, possibly at the behest of Tornatore. The supporting cast were fine in their small roles for the most, with Williams over the top in the best sense as Jelly Roll Morton, and the beautiful Thierry whose etheral screen presence will surely be seen again sometime soon.
What holds this movie together however, and rightly so, is the music. Morricone’s score is sensational and the piano playing is a delight to hear - I have a feeling that this film will be more remembered for its soundtrack than anything else. Not a movie to rush out and see - but one worth seeing, or hearing at the least! (Paul Bugeja--filmnet.org.au)
Friday, July 15, 2005
Velvet Goldmine
Even so, the positively embarrassing era of 1970's glam rock looked as immune as any to this retro trendifying. But perhaps what Boogie Nights did for the late 70's, Velvet Goldmine will do for the early 70's.Director Haynes is chiefly known for Poison, his cult study of gays in prison and Safe, an unreleased film about household phobia starring Julianne Moore. His latest film centres around the quest by a young gay fan-turned-journalist (a grown up Bale from Empire Of The Sun) to find the elusive glam rock singer he idolised in his youth. The film unfolds in a series of Citizen Kane-like reminisces. The pop idol Brian Slade (Rhys Meyers from A Man Of No Importance) is obviously based on David Bowie. However, the film is more about the evocation of a time than a rock biopic. Haynes's approach lacks any significant 'rock feel' and the concert scenes are used more as backdrops for drama. One suspects Haynes was more interested in the sexual ambiguity than the music. Still, there are some wonderful moments. The performance of Collette as Slade's wife Mandy is worth a lot on its own, and an honourable mention too for Ewan Macgregor as Curt Wild (aka Iggy Pop) who further extends his range here. The sense of playful narcissism and of the power of youth subcultures is also spot on. Haynes showed some real auteurish touches in Poison, and here again the strongest moments are those where he somehow imbues his camera work with a sense of desire and longing all wrapped in a haze of beauty rising from the essentially mundane.
People who know Haynes's work will find some confirmation of his cinematic talent. However, he is more artist than communicator and so one hesitates to recommend it to everybody. ---Julian Wood
Sunday, June 12, 2005
Coffe and Cigarette
.The fine, funky cool of Jim Jarmusch permeates this lyrically funny cluster of eleven stories that Jarmusch began filming in 1986. Sure, it's just two or three people bonding over the twin addictions of the title. But Jarmusch makes it a feast that plays like a haunting concept album. I liked some tracks more than others. Bill Murray is hilarious serving java to RZA and GZA; Cate Blanchett scores a tour de force playing herself and her black-sheep cousin; Tom Waits memorably encounters Iggy Pop. Best of all is a chat between Alfred Molina and Steve Coogan that slyly sticks it to Hollywood. Jarmusch is still the indie soul incarnate.
www.rollingstone.com
Down By Law
.American independent director Jim Jarmusch leaped onto the world cinema stage with the idiosyncratic deadpan road movie Stranger than Paradise in 1984 and then followed it up with the equally distinctive prison break movie Down by Law in 1986.
Down by Law became an immediate cult hit partly because of its pokey humor style but also because it starred musicians Tom Waits and John Lurie along side upstart Italian comedian Roberto Benigni – who is so over-the-top he really revs up the film’s expressionless tempo.
As in many of Jarmusch’s films this one is a modern matter-of-fact fable about down-and-out guys who get caught in the wrong place at the wrong time. In this case the two main characters are Jack (Lurie), a small time pimp, and Zack (Waits), a DJ. Both of them – who don’t know each other until they end up in the same jail cell together – are set up and wrongfully arrested. The third character is an Italian tourist (Benigni) who ends up in the cell with them. They spend a few weeks in the cell and finally manage to escape into the swamps of Louisiana.
Down by Law, now available on DVD from The Criterion Collection, takes a while to really get going. Jarmusch establishes the gorgeous black and white look, the unhurried pace and vibe of Louisiana, as the primary focal point of the film. The story and the characters develop little by little, as does the humor.
Jarmusch’s humor is atypical in film history. He doesn’t rely on slapstick or zany screwball comedy. Instead he uses a deliberate, accumulative humor that can only be appreciated as the movie goes along. It’s a humor predicated on rigorous framing and long-held shots, which become funny by virtue of their awkward rhythm. Often the dull manner in which the characters talk to one another and the empty spaces they occupy becomes funny for no apparent reason.
This brand of humor – which isn’t to everyone’s taste – was used to some degree in the past by Buster Keaton and Jacques Tati. Today it is employed by such directors as Aki Kaurismaki (Leningrad Cowboys Go America) and Tsai Ming-Liang (What Time is it There?) but not as much in American cinema. In Down by Law the humor comes mainly in the second half when we realize – along with the characters – the absurdity of their situation in the swamps. Basically, they have escaped one prison for another. At least for a while – until the fable-like last 20 minutes.
Down by Law may not be Jarmusch’s best film since it tends to poke along a little too slowly at times. But it does have some great moments and it really picks up steam toward the end as the three try to escape the swamp. However, the Criterion Collection DVD of the film is by far the best DVD currently available for any Jarmusch film.
filmcritic.com
Stranger Than Paradise
.Artistically if not economically, the '80s were awfully dismal times for Hollywood, which, after the restless experimentation of the previous decade, reverted to assembly-line moviemaking under the guidance of the Eisners and the Ovitzes and the Spielbergs. It's not surprising that one of the decade's true highlights is this beautifully loping piece of black-and-white minimalism.
Centering on the random escapades of a knockabout trio--Willie (John Lurie), his Hungarian cousin (Eszter Balint), and Willie's pal Eddie (Richard Edson)--STRANGER THAN PARADISE stands out from the plot-driven Hollywood product simply by daring to omit plot. The action, if you can call it that, scrolls from New York to Ohio to Florida (the film was entirely shot on location), but, perversely, nothing really happens. The movie plays out in a minor key--this is its strength. The film's laconic humor depends on the apparent pointlessness; each scene ends with a abrupt blackout, which only underscores, rather effectively, the apparent emptiness of the material. The film may or may not be making a broad comment on culture clash; it's hard to say. Just imagine a feature film composed of "deleted scenes" and you have a sense of the movie's aimless texture.
For this early effort, Jarmusch won the Camera d'Or (Best First Film) at Cannes. There is indeed something distinctly European about his style--introverted, laid-back, deriving more from the Theatre of the Absurd than from American sources. Or perhaps not: STRANGER reminds me of nothing more than the drifting feel of life in the Midwest (Jarmusch is from Ohio). It's difficult to depict banality on film; directors who try usually end by condescending to their subjects--think of Fargo, impressive though it is in many areas. Jarmusch does not. This alone makes STRANGER a major achievement.
Though clearly filmed on the cheap, the movie displays Jarmusch's sure hand at every turn--only one scene, a mistaken-identity bit toward the end, is clumsily staged.
A real charmer, it is--a minor masterpiece, and a rare bright spot from a generally undistinguished period
www.ecritic.com
Mystery Train
In the first episode, two teenage Japanese tourists -- the glum Jun (Masatoshi Nagase) and his bubbly girlfriend, Mitzuko (Youki Kudoh) -- train into Memphis to visit the shrine of their King, Elvis. Actually, Jun prefers Carl Perkins, but he gives Presley his royal due. After a long day on the hot streets and a fast visit to Sun Studio, Jun and Mitzuko check into the Arcade and make love under a garish portrait of Elvis (one comes with every room). Later, listening to the King croon "Blue Moon" on the radio, Jun gazes out the window at the neon-lit streets and distant train tracks. "This is cool," he tells Mitzuko, a cigarette dangling from his lips and Memphis at his feet. For a moment, with the help of Robby Mnller's evocative camera work (this is the first Jarmusch film shot in color), it is. By an act of will, two foreigners have made Memphis the exotic, hip Mecca they want it to be. Similarly, the Hungarian visitor in Jarmusch's Stranger Than Paradise and the Italian immigrant in Down by Law turned America into their best fantasies in a way most of us who live here cannot. Come morning, the spell broken by the sound of a gunshot down the hall, Jun and Mitzuko move on.
In the second episode, Jarmusch uses Luisa -- a young Italian widow beautifully played by Nicoletta Braschi -- to offer a fresh perspective on the familiar. Unlike the Japanese couple, Luisa is not on a pilgrimage. She has been forced to stop in Memphis overnight before flying her husband's body back to Rome. Elvis means little to her, though she is amused when a wacko in a coffee shop (an eerie Tom Noonan) announces that he recently picked up the dead King hitchhiking. It seems Elvis had a comb he wanted the driver to pass on to Luisa. She makes her getaway to the Arcade, where she lets herself be talked into sharing a room for the night with an American named DeeDee (Elizabeth Bracco) who can't stop gabbing about how she just broke up with her Brit boyfriend. After DeeDee drifts to sleep listening to the same Elvis song that Jun and Mitzuko heard on the radio, the King's ghost shows up with a message for Luisa. The moment, too good to give away, is enchanted. An embarrassed Luisa never mentions her experience to DeeDee the next morning. The sound of a gun firing is too much distraction.
In the third episode, the Arcade is all shook up by the arrival of DeeDee's boyfriend, Johnny (Joe Strummer, formerly of the Clash), his pal Will (Rick Aviles) and DeeDee's barber brother, Charlie (Steve Buscemi). Johnny has persuaded the others to help him rob a liquor store, and now the comically inept trio is holed up in one of the hotel's tackiest rooms with a portrait of Elvis, a cache of booze and a gun. That's where the shot comes in (no fair telling how). Jarmusch lets this episode ramble on too long, but his point is clear: Outsiders can make us view the mundane in a new way. But these drunken local yokels are too busy running in circles to see the magic.
Jarmusch sees it for us by charting a series of parallel lives that never meet. He finds humor in these missed connections, but the transience of life also moves him. His bracing, original comedy may be mostly smoke and air, but it's not insubstantial. Mystery Train insinuates itself into the memory and lingers on.
www.rollingstone.com
Friday, March 25, 2005
Sideways

Sutradara : Alexander Payne
Penulis Naskah : Alexander Payne, Jim Taylor, Rex Pickett
Durasi : 2.03 jam
Gendre : Drama
Produksi : Twentieth Fox Searcchlight, 2004
Pemain : Paul Gimatti, Thomas Haden Church, Virginia Madsen, Sandra Oh
Ilustrasi musik dipermainkan dengan naïf dari satu scene ke scene yang lain mengantarkan sebuah cerita dua orang sahabat yang melakukan perjalanan. Miles adalah seorang guru bahasa inggris, seorang penulis novel yang gagal, seorang pria yang bercerai dan tertarik pada hal yang bersangkutan dengan wine. Sedangkan Jack adalah seorang actor yang akan menikah pada hari sabtu. Keduanya terjebak dalam usia yang cukup dewasa dan telah melewati berbagai persoalan dalam hidupnya.
Tibalah saatnya Jack akan melangsungkan pernikahan, maka Miles menemani Jack menghabiskan waktu berdua dengan menikmati perjalanan ke California sebagai kota anggur dan mencoba berbagai jenis Anggur (Wine). Hal yang menarik dalam film ini ialah bagaimana hubungan kedua sahabat ini saling memberikan ilustrasi terhadap hidupnya.
Alexander Payne berhasil mengangkat berbagai karakter dalam sideways ini. Jack sebagai aktor dengan berbagai tipikal aktor yang telah bermain dalam berbagai film yang cukup terkenal, Miles sebagai guru bahasa dan penulis dengan karakter yang selalu menarik diri dari kenyataan yang telah dilewati, Maya sebagai perempuan independen dan memiliki banyak kemampuan yang disembunyikannya lalu Stephanie seorang perempuan blasteran cina dengan tipikal eksotis. Semuanya bermain dalam koridor karakter yang kuat dan semua tokoh saling melengkapi.
Selain itu, kita seakan melakukan perjalanan ke California mengingat banyak icon California yang diperlihatkan dari sudut pengambilan gambar. Seakan kita dibawa perjalanan oleh seseorang yang mengenal betul ciri khas dari California.
Friday, March 18, 2005
Million Dollar Baby

Sutradara : Clint Eastwood
Penulis Naskah : Paul Haggis
Durasi : 101 menit
Gendre : Drama
Produksi : Warner Bros Picture, 2004
Pemain : Clint Eastwood, HIllary Swank, Morgan Freeman
Frankie Dunn seorang pelatih tinju tapi ia tak lagi menaruh minta untuk melatih tinju pada siapapun setelah seorang anak didiknya hengkang pada manajer tinju yang lain. Hingga pada suatu hari datang ke Gym seorang perempuan yang bernama Maggie Fitzgerald. Setiap hari ia datang dan berlatih di tempat tersebut. Maggie sangat tertarik pada Frankie dan merasa yakin bahwa hanya Frankielah yang dapat membuatnya menjadi seorang pemain tinju yang hebat. Frankie Dunn sangsi atas kemampuan Maggie mengingat umurnya yang sudah tua namun melihat kesungguhan Maggie maka luluhlah ketidakpercayaan Frankie pada Maggie.
Ini bukan film petinju yang tampak brutal. Namun lebih sensitif pada persoalan penerimaan dan penolakan orang lain atas nilai hidup yang dijalaninya. Sentuhan-sentuhan cinematografi berhasil menerjemahkan setiap kemasan suasana sehingga tampak alami. Maggie yang memulai hidup dari potongan makanan bekas dari rumah makan tempatnya bekerja. Begitu pula kesepian atas kekecewaan demi kekecewaan hidup yang dilewati Frankie terasa sangat kental. Dalam film ini, anda akan menemukan ketulusan, kekuatan, kesungguhan dan kehangatan yang terjalin atas kecintaan pada dunia tinju. Karena kecintaan atas dunia ini, maka muncul perasaan merasa bertanggung jawab atas keselamatan dan kebahagiaan atas keduanya.
Friday, March 11, 2005
Finding Neverland

Sutradara : Marc Forster
Penulis Naskah : Allan Knee, David Magee
Durasi : 101 menit
Gendre : Drama
Produksi : Warner Bros Picture, 2004
Pemain : Johnny Depp, Kate Winslet, Dustin Hoffman, Julie Christie
Sir James Matthew Barrie adalah seorang penulis naskah teater dan sutradara yang cukup berbakat pada zamannya. Saat itu masyarakat akrab dengan pertunjukan dengan aliran akting dan naskah romantik. Pertunjukan teater adalah sebuah hiburan yang bergengsi sehingga dapat meningkatkan reputasinya. Hingga sampailah J.M. Barrie pada titik kegelisahan dimana penontonnya tak lagi menikmati pertunjukan yang ia tampilkan tapi lebih sekedar formalitas.
Lalu munculah sebuah sentuhan baru dalam hidupnya. Ia menemukan inspirasi dari sekelompok anak-anak yang sedang piknik di taman bersama ibunya. Anak-anak itu begitu antusias terhadap apa yang dilakukan oleh J.M Barrie dan J.M Barrie pun tampak menikmati pertemuannya dengan teman kecilnya itu. Pertemuan di tamanpun berlangsung cukup sering, keduanya saling memberikan inspirasi. Anak-anak terinspirasi pada profesi J.M Barrie dan J.M Barrie terinspirasi oleh kebebasan pada jiwa anak-anak itu. Lalu terjalinlah hubungan persahabatan antara keduanya selain itu J.M Barrie selalu mendapatkan hal yang baru untuk merangkai naskahnya.
Finding neverland adalah sebuah film yang dapat menjelaskan kita tentang cara pandang sesuatu dari perpektif penulis. Bagaimana dia mendapat inspirasi atas sentuhan-sentuhan yang ia lihat dan ia rasakan secara verbal maupun non verbal menjadi sesuatu yang memasuki batas imajinasi diluar logika. Sehingga lahirlah sebuah karya yang penuh imajinasi dan diluar kebiasaan realita kehidupan. Peter Pan!
Friday, March 04, 2005
Ray
Sutradara : Taylor Hackford
Penulis : Taylor Hackford
Durasi : 2.31 menit
Genre : Drama / Musik
Produksi : Universal Picture, 2004
Pemain : Jamie Foxx, Regina King, Kerry Washington, Clifton Powell
Tak memiliki salah satu organ tubuh bukan berarti tidak memiliki jiwa untuk menggerakkan dirinya dalam mewujudkan impiannya. Ibunya yang mandiri, mempunyai peran penting dalam menumbuhkan pribadi Ray untuk hidup diatas kedua kakinya tanpa bergantung pada orang lain.
Taylor Hackford memaparkan perjalanan seorang Ray Charles Robinson yang menjadikan dirinya adalah musik milik siapa saja. Ray, musisi yang berasal dari kota miskin di Georgia, ia melangkah pada masa gesekan rasisme masih terasa. Kemampuannya memainkan alat musik piano membuat dirinya mewujudkan impiannya ke Seattle. Dikota inilah Ray memulai karirnya sebagai musisi, dengan mudah Ray mendapatkan rekan bermusik karena kejeniusan musiknya. Tak hanya itu, Ray berani mengolah musiknya dan mengkolaborasikannya dengan berbagai aliran musik. Insting yang terwujud dalam spontanitas menciptakan dan mencapuradukan aliran-aliran musiknya menjadi karya yang mempunyai cita rasa Ray. Musiknya sendiri seakan dibuat lintas umur, status sosial membuat setiap satu karya dengan karyanya yang lain dari musik yang dibentuknya terasa berbeda sehingga siapapun seakan memiliki musiknya. Sentuhan-sentuhan orchestra, jazz, country atau gospel pada musiknya itulah membuat karyanya menjadi kaya.
Romantika perjalanan Ray dari satu audisi ke pertunjukan musik café ke café lalu dari perusahaan rekaman ke rekaman, konser musik dari satu kota ke kota lain yang membuat reputasinya semakin diterima oleh banyak kalangan. Lebih-lebih musiknya selalu menjadi hits di radio.
Jamie Foxx berhasil dalam memainkan karakter Ray dari permainan tubuh maupun emosi. Selain itu setting tempat terasa ada perubahan
Friday, February 25, 2005
Dancer in The Dark
Selma (Bjork), seorang imigran dari Eropa Timur yang pindah ke Amerika. Dengan latar tahun 1964 di Washington. Selma bekerja siang dan malam untuk menyelamtkan anaknya dari penyakit yang sama dengan yang dideritanya, penyakit yang bisa menyebabkan dirinya buta.
Tapi Selma memiliki banyak kekuatan untuk bertahan hidup karena rahasia pribadinya! Ia sangat menyukai musik. Ketika hidup terasa sulit, ia akan berpura-pura hidup di dunia musikal.. hanya untuk beberapa saat. Semua kebahagiaan hidup akan ditemukan oleh dirinya dalam dunia kepura-puraannya itu.
Ketika tetangganya putus asa dan mencuri semua simpanan Selma, drama hidupnya berubah secara drastis menjadi sebuah akhir yang sangat tragis.
Lars Von Trier, sutradara film ini yang merupakan sutradara film teater DogVille, selalu memiliki tema yang kontroversial. Merupakan prestasi tersendiri ketika Tries berhasil mengajak Bjork untuk terlibat langsung dalam pembuatan film sebagai bintang utama sekaligus music directornya.
Friday, February 18, 2005
The Indian Runner
Sutradara & Penulis Skenario : Sean Penn
Genre : Drama
Produksi (tahun) : MGM (US, 1991)
Durasi : 126 Menit
Life has no other discipline to impose, if we would but realize it, than to accept life unquestioningly. Everything we shut our eyes to, everything we run away from, everything we deny, denigrate, or despise, serves to defeat us in the end. What seems nasty, painful, evil, can become a source of beauty, joy, and strength, if faced with an open mind. Every moment is a golden one for him who has the vision to recognize it as such.
Henry Miller (1891 - 1980)
Diilhami oleh lagu Bruce Springsteen Highway Patrolman dan tribute kepada sinema independent Amerika pada tahun 70an khususnya John Cassavetes debut pertama Sean Penn sebagai sutradara adalah sebuah tour de force. Berlatar belakang sebuah kota kecil di Nebraska di tahun 1968, dibawah bayang-bayang perang Vietnam. The Indian Runner bercerita tentang dilema yang harus dialami oleh Joe (David Morse) sebagai seorang peneegak hukum sedangkan Frank (Viggo Mortensen) adiknya seorang veteran perang Vietnam yang baru saja kembali ke kampung halaman adalah seorang pemuda dengan reputasi sebagai pembuat onar yang berulangkali harus berurusan dengan hukum.
Menarik untuk melihat betapa dua karakter yang begitu berseberangan, Joe seorang ayah, kepala keluarga yang hangat dan penuh kasuh sayang sehari-harinya bekerja sebagai sheriff dan Frank pemabuk dan pembuat onar yang kembali lagi ke kampung halamannya sebagai veteran perang Vietnam berusaha untuk saling memahami namun usaha tersebut terhalang oleh perbedaan sifat dan karakter yang mendasar diantara mereka, tercermin dari kalimat getir Frank bahwa di dunia ini hanya ada pahlawan dan penjahat.
Keinginan Frank untuk berubah terhalang oleh kebiasaan buruknya dengan minuman keras, kehadiran Dorothy (Patricia Arquette) sebagai kekasih yang setia sedikit menolong Frank untuk berubah apalagi ketika ia menyadari bahwa Dorothy mengandung kekerasan hati Frank sedikit melunak namun seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun akhirnya kisah cinta mereka harus berakhir tragis.
Joe pun walau digambarkan nyaris sempurna ternyata juga memiliki masalah, sebelum menjadi polisi ternyata dia adalah seorang petani namun akibat hutang dia harus kehilangan ladangnya. Film ini dengan jujur mempertanyakan mitos kelelakian (maskulinitas) yang selama ini cenderung justru membelenggu kaum pria, kehilangan ladang bagi seorang petani seperti Joe bukan saja membuatnya secara finansial impoten namun kehilangan ladang dapat juga dianalogikan sebagai kastrasi yang membuat imaji kelelakiannya (maskulinitas) tidak utuh, hal ini nampak pada percakapan antara Joe dan Frank ketika mereka mengunjungi bekas ladang Joe.
Kemampuan Penn yang patut diacungi jempol adalah bagaimana dia mampu menggambarkan karakter-karakter dalam film ini dengan begitu manusiawi tanpa harus terjebak untuk mensteriotipkan karakter atau cerita yang sebenarnya berpeluang besar untuk jatuh ke dalam perangkap tadi : Joe penegak hukum, kepala keluarga à (good guy), Frank pemabuk, misantropi / anti-sosial à (bad guy), cerita yang sepintas mirip dengan film-film melodrama klasik Hollywood : Rebel Without a Cause, East of Eden. Acungan jempol juga patut kita berikan pada kedua pemeran utama film ini David Morse (Joe Roberts) dan Frank Roberts (Viggo Mortensen) yang mampu memerankan karakter-karakter mereka dengan begitu tulus dan jernih, catatan khusus untuk Viggo Mortensen yang pada film ini mampu menunjukkan bahwa sebenarnya jika mendapat peran yang tepat ia dapat membuktikan dirinya adalah aktor dengan bakat yang besar sayangnya ia kemudian jatuh pada peran steriotip yang kurang dapat mengakomodasi kemampuannya tersebut seperti peran Aragon (Lord of The Rings Trilogy).
Akhir kata The Indian Runner adalah sebuah film yang mampu menunjukkan momen-momen mendebarkan ketika manusia dengan ketulusannya dan keringkihannya berusaha untuk saling memahami, mencintai namun sayangnya usaha tersebut seringkali tidak berjalan mulus bahkan gagal dan Sean Penn tidak takut untuk menunjukkan pada kita kegagalan tersebut, sebuah kejujuran yang sudah sangat langka kita temukan di dunia ini apalagi di Hollywood. (TC, 2005)
Friday, February 11, 2005
Central Station
Sutradara : Walter Salles
Penulis : Marcos Bernstein & João Emmanuel Carneiro
Genre : Drama
Durasi : 113 menit
Dalam film ini, kita dapat melihat sisi lain dari kota Brasil yang terjebak dalam situasi kota yang hiruk pikuk dengan segala macam mimpi yang ditawarkan. Kamera berhasil mengambil garis mata dan lusuhnya setiap wajah, gerak tubuh dan harapan dibalik kerasnya bagian dari kota Rio yaitu Station Kereta Api.
Dari ribuan pencari mimpi, disalah satu sudut stasion kereta terdapat seorang perempuan yang bernama Dora (Fernanda Montenegro) memberikan harapan berupa menuliskan surat bagi orang-orang yang tak bisa menulis dan membaca. Hanya sayangnya Dora melakukan kecurangan dengan memanfaatkan kebodohan orang-orang ini untuk mendapatkan uang sebab tak ada satu suratpun dilayangkan bagi yang dituju. Disinilah Dora bertemu dengan seorang wanita sambil membawa seorang anak yang bernama Josué (Vinicius de Oliveira) lalu minta tolong padanya untuk menuliskan surat untuk suaminya. Sampai pada suatu waktu, wanita tersebut datang lagi bersama Josué meminta dituliskan surat lagi sampai suatu hal terjadi saat mereka berdua menyelesaikan urusan dengan Dora. Ibu dari anak ini mendapat kecelakaan hingga meninggal. Tinggalah Josué terlantar di Station Kereta Api sebelum akhirnya dibawa oleh Dora.
Film ini sangat bagus untuk ditonton, sepanjang film ini anda akan terlibat pengalaman emosional dari berbagai situasi antara Josué dan Dora. Bagaimana Dora bekas guru yang selama ini hidup sendirian dalam sebuah apartemen kumuh dan selalu berinteraksi dengan kerasnya lingkungan sekitarnya lalu terpaksa membawa Josué yang mempunya karakter anak yang cerdas, baik dan jujur untuk hidup bersamanya. Berbagai situasi terjadi, perdebatan antar keduanya tak dapat dipungkiri sampai membawa mereka berdua dihadapkan pada pengalaman yang menarik.
Sebuah alur yang sangat sederhana yang dikemas dengan situasi artistik yang berbeda-beda sehingga membawa kita melihat suasana Brazil yang kental. Begitu pula dalam film ini, kekuatan pemain dalam mengolah penokohannya membuat kita terbawa dalam emosi.
Friday, February 04, 2005
Talk To Her

Sutradara : Pedro Almodovar
Penulis : Pedro Almodovar
Genre : Drama
Durasi : 113 Menit
Salah satu film yang dikemas dengan cantik dilayangkan oleh sutradara Spanyol. Pedro Almodovar sebagai pembuat film “All About My Mother” mengangkat tema sederhana namun kemasan cerita itu sendiri tak sesederhana tema itu sendiri. Pedro Almodovar mengangkat situasi pada dua laki-laki dalam menghadapi perempuan yang dicintainya.
Sebuah kisah cinta yang tak biasa dengan kemasan yang sangat unik. Baik dari pengambilan gambar yang mewakili keindahan yang tak biasa dilihat, permainan emosional dari musik spanyol yang mengisi situasi adegan, karakter tiap tokoh yang dibawakan dengan pas. Ada saatnya penonton terhanyut pada suasana kesepian, kemarahan akibat cinta yang mendalam.
Dalam film ini, ada dua kasus laki-laki yang mencintai perempuan yang berbeda. Hal yang menarik, Pedro Almodóvar mengangkat dua perempuan dengan profesi yang sangat jauh berbeda. Perempuan yang satu adalah seorang penari sedangkan yang satunya lagi seorang matador. Masing-masing dengan kekuatan dan kelemahan yang berbeda dan bagaimana kedua laki-laki ini menyikapi emosinya dalam menghadapi masing-masing yang dicintanya sehingga kedua perempuan tersebut kecelakaan dan koma dalam waktu yang sangat lama.
Pedro Almodóvar seperti berusaha menjelaskan bagaimana pengaruh cinta dapat menjebak seseorang untuk melakukan suatu tindakan irasional dalam melampiaskan perasaannya.
Dalam film ini dapat ditemukan situasi-situasi yang dramatik, lucu, kesunyian, kemarahan dan kekuatan ambisi setiap tokoh.