Sutradara : Walter Salles
Penulis : Marcos Bernstein & João Emmanuel Carneiro
Genre : Drama
Durasi : 113 menit
Dalam film ini, kita dapat melihat sisi lain dari kota Brasil yang terjebak dalam situasi kota yang hiruk pikuk dengan segala macam mimpi yang ditawarkan. Kamera berhasil mengambil garis mata dan lusuhnya setiap wajah, gerak tubuh dan harapan dibalik kerasnya bagian dari kota Rio yaitu Station Kereta Api.
Dari ribuan pencari mimpi, disalah satu sudut stasion kereta terdapat seorang perempuan yang bernama Dora (Fernanda Montenegro) memberikan harapan berupa menuliskan surat bagi orang-orang yang tak bisa menulis dan membaca. Hanya sayangnya Dora melakukan kecurangan dengan memanfaatkan kebodohan orang-orang ini untuk mendapatkan uang sebab tak ada satu suratpun dilayangkan bagi yang dituju. Disinilah Dora bertemu dengan seorang wanita sambil membawa seorang anak yang bernama Josué (Vinicius de Oliveira) lalu minta tolong padanya untuk menuliskan surat untuk suaminya. Sampai pada suatu waktu, wanita tersebut datang lagi bersama Josué meminta dituliskan surat lagi sampai suatu hal terjadi saat mereka berdua menyelesaikan urusan dengan Dora. Ibu dari anak ini mendapat kecelakaan hingga meninggal. Tinggalah Josué terlantar di Station Kereta Api sebelum akhirnya dibawa oleh Dora.
Film ini sangat bagus untuk ditonton, sepanjang film ini anda akan terlibat pengalaman emosional dari berbagai situasi antara Josué dan Dora. Bagaimana Dora bekas guru yang selama ini hidup sendirian dalam sebuah apartemen kumuh dan selalu berinteraksi dengan kerasnya lingkungan sekitarnya lalu terpaksa membawa Josué yang mempunya karakter anak yang cerdas, baik dan jujur untuk hidup bersamanya. Berbagai situasi terjadi, perdebatan antar keduanya tak dapat dipungkiri sampai membawa mereka berdua dihadapkan pada pengalaman yang menarik.
Sebuah alur yang sangat sederhana yang dikemas dengan situasi artistik yang berbeda-beda sehingga membawa kita melihat suasana Brazil yang kental. Begitu pula dalam film ini, kekuatan pemain dalam mengolah penokohannya membuat kita terbawa dalam emosi.
No comments:
Post a Comment