Tuesday, September 05, 2006
Klab Nonton Ngabuburit
setiap Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat, pk. 15.00 – 17.00 selama bulan puasa
26 September 2006
Animal Farm
27 September 2006
Alice in Wonderland
28 September 2006
Bambi
29 September 2006
The Wizard of Oz
3 Okt 2006
Young Frankenstein
4 Okt 2006
Frankenstein
5 Okt 2006
Bride of Frankenstein
6 Okt 2006
Forest Gump
10 Okt 2006
Great Expectation
11 Okt 2006
80 Days Around The World
12 Okt 2006
Willy Wonka and The Chocolate factory
13 Okt 2006
Charlie And The Chocolate Factory
Terselenggara berkat kerjasama dengan Mondo Video
Friday, July 14, 2006
Special Screening : "Kami, Jogja Kita"
Common Room, Jumat, 15 September 2006
Pk. 16:00- 18:00 Wib
Program Film Yogyakarta Kini
Adakah pemaknaan yang "Jogja" atas Jogja hari ini?
Diskusi bersama Alex Sihar (konfiden)
Ketika Jogja sedang dirundung kepedihan. Ketika Jogja sedang karam. Ketika bencana alam meluluhlantakkan segalanya.. Memberi makna atas harapan, semangat juang, dan solidaritas yang menggugah inspirasi untuk bangkit. Melawan kesedihan, trauma, gelisah, dan suasana membingungkan. Mentransformasikan energi negatif menjadi daya positif ...
"Kami, Jogja Kita" adalah sebuah program film karya para pembuat film dari Yogyakarta yang mengangkat tema tentang semangat juang, solidaritas serta usaha melawan kesedihan, trauma, kegelisahan, dan suasana yang membingungkan. Sejak pengumumannya pertama kali pada awal Juni 2006, fasilitator program ini telah memperoleh 11 film yang masuk dalam kurasi program. Seluruh film tersebut merupakan karya hasil jerih payah kawan-kawan para pembuat film di Yogyakarta yang juga terlibat dalam berbagai proses penanganan korban pasca bencana gempa.
Acara "Kami, Jogja Kita" terdiri atas,
- Pemutaran film
- Diskusi dengan tema, "Sikap sinema Indonesia dalam situasi krisis"
Sekilas tentang Program "Kami, Jogja Kita"
Gagasan tentang program ini berawal dari pembacaan kritis atas representasi yang dibangun oleh media massa tentang pascabencana di Yogyakarta. Diskusi tentang program ini kemudian dilakukan bersama komunitas-komunitas yang ada di Yogyakarta pada 18 Juni 2006. Tempat diskusi difasilitasi oleh FourColours, Yogyakarta. Acara diskusi dihadiri oleh FourColours, 7 Picture, Rumah Sinema, Yayasan Seni Cemeti, SATUVISI, Matahati, LimaEnam Films, Komunitas Dokumenter/FFD, www.Infogempa.org, Langit Cerah, Nugross Film, dan beberapa simpatisan. Dari diskusi tersebut, program “Kami, Jogja Kita” rencananya juga akan berlanjut pada pengembangan wacana tentang pemanfaatan media audio visual dalam proses rehabilitasi pascabencana di Yogyakarta yang akan dilakukan oleh jejaring komunitas film Yogyakarta dengan dukungan jejaring komunitas film di luar Yogyakarta.
Program "Kami, Jogja Kita" adalah program yang berkelanjutan dan bersifat terbuka. Acara pemutaran film dan diskusi dalam program "Kami, Jogja Kita" akan berlanjut di berbagai kota yang difasilitasi oleh komunitas film di kota masing-masing. Hingga saat ini, komunitas film yang telah menyediakan jadwal untuk pelaksanaan program ini adalah: MP Book Point dan Art Cinema House (Jakarta), Infis (Surabaya), Kine Klub Fisip UNS (Solo), Minikino (Jakarta, Bandung, dan Bali), Cinema Talas UMM (Makassar), dan Common Room (Bandung). Program ini tetap terbuka untuk menerima dukungan dari berbagai komunitas film lainnya, terutama untuk pelaksanaan program.
Tentang Kurasi Program
"Kami, Jogja Kita" adalah sebuah program rangkaian film dari Yogyakarta dengan sudut pandang berbeda dari jurnalistik media TV dan cetak. Program pemutaran film ini merupakan arena berbagi yang memperkaya kebersamaan kita tanpa perantara jurnalistik yang sarat dengan suara-suara dan kepentingan lain.
Kurasi program ini mengacu pada isi film yang menyuarakan tentang:
- semangat kemandirian untuk bangkit
- semangat untuk terus maju setelah tenggelam dalam kesedihan
- harapan tentang masa depan yang lebih baik
- aktivitas yang dapat menjadi inspirasi untuk bangkit
- perjuangan rekan-rekan di Yogyakarta mengatasi permasalahan pascabencana
Pemilahan isi film ini bertujuan untuk menunjukkan kembali sejarah juang masyarakat Yogyakarta di masa lalu yang diwarisi oleh anak-anak muda saat ini. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi keterpurukan pascabencana. Masyarakat Yogyakarta masih memiliki harkat, martabat, dan jiwa yang besar sehingga dapat bergerak maju dengan lapang dada dan ikhlas.
Program ini terselenggara berkat kerjasama: Konfiden dan Common RoomProgram "Kami, Jogja Kita"
Daftar Film
Sesi 1
Berdiri di Atas Kaki Sendiri | Dokumenter | 22 menit 7 detik | 2006
Sutradara: BW Purba Negara, Yuli Andari Merdikaningtyas
Penata Musik: Otto Muharom
Produksi: Benang Merah, limaenamfilms
Sinopsis: Usaha masyarakat Bantul, Gunung Kidul, dan Klaten untuk tetap berusaha hidup dan memulihkan keadaan setelah gempa.
---------------------------------------------------------------------
Apel 5,9 (5,9 SR Video Project #5) | Fiksi -- Animasi | 55 detik | 2006
Animator: Anis Ekowindu
Produksi: GOING MAD Anime
Sinopsis: Sebuah interpretasi atas gempa yang terjadi di Jogja. Bahwa kejadian buruk yang terjadi pasti memiliki maksud baik, gempa memaksa masyarakat untuk kembali membangun kebersamaan yang sebelumnya dilupakan.
---------------------------------------------------------------------
Trimbil lan Bratil | Dokumenter | 20 menit 53 detik | 2006
Produksi: SATUVISI INDONESIA
Produser Eksekutif: Kusen, d.h.ra, Tomy Taslim
Produser: Kusen, d.h.ra, Tomy Taslim
Sutradara: Tomy Taslim
Sinopsis: Trimbil dan Bratil mewarnai hari-harinya dengan caranya sendiri.., hari-hari yang tidak biasa.
Mereka telah memulainya sejak 27 mei 2996 di Jogja, hari-hari yang tidak biasa.
Kru Produksi
Kamerawan: Tomy Taslim dan Y. Aditya
Riset Lapangan: Tomy Taslim
Editor: Taufik Arifianto
Supervisi Editing: Kusen, d.h.ra
Lagu: "Ono Bocah" (Ki Slamet Gundono)
Vokal: Gunawan Maryanto
Translator: Agus Hw
---------------------------------------------------------------------
5,9 SR Video Project #6 | Fiksi -- Animasi | 1 menit 51 detik | 2006
Animator: Asa Rahmana
Fotografer: Bram
Musik: Teguh Hari
Editor: Chandra
Sinopsis: Film instruksional, Sebuah ajakan untuk menyiapkan kebutuhan obat dan pangan darurat untuk menghadapi segala situasi.
---------------------------------------------------------------------
Aku Oke #1 | Dokumenter | 17 menit | 2006
Kameramen, Editing: Nunuk Ambarwati, Dwi Rahmanto
Musik: R.E.M.
Produksi: Cemeti Art Foundation & Papermoon
Sinopsis: Cemeti Art Foundation & Papermoon mengadakan sebuah program "Aku Oke" bagi anak-anak yang tertimpa bencana gempa di Jogja. Yang pertama diadakan di kawasan Dusun Tegal Kebonagung, Imogiri, Bantul, sebuah daerah di Jogja yang menderita kerusakan sebesar 99%. Program "Aku Oke" ini diadakan untuk membangkitkan semangat anak-anak tersebut supaya tidak tenggelam dalam trauma dan kesedihan yang berlarut akibat kehilangan orang-orang dan benda-benda yang mereka sayangi, melalui berbagai macam kegiatan (mulai dari permainan tradisional sampai belajar membuat wayang kertas dan pertunjukannya). Tujuan besar dari kegiatan ini adalah membawa mereka kembali dalam dunia yang seharusnya mereka tinggali, yaitu dunia anak-anak. Film ini menunjukkan hasil dari program "Aku Oke", bagaimana anak-anak tersebut bisa tertawa hanya dengan sedikit hiburan dan aktivitas.
---------------------------------------------------------------------
5,9 SR Video Project #4 | Fiksi -- Animasi | 2 menit 21 detik | 2006
Animator: Pandu Mahendra
Musik: Heru 'Papa.T'
Teks: Tiar, Memet 'dub youth'
Editor: Chandra
Sinopsis: Sebuah gambaran lugas mengenai apa yang telah terjadi di Jogja dan apa yang harus dilakukan untuk bangkit kembali.
Sesi 2
5,9 SR Video Project #1 | Fiksi | 2 menit 43 detik | 2006
Sutradara: Eko Nugroho
Pemain: Iwank
Sinopsis: Seorang pria pulang ke rumah dini hari dan tertidur. Tiba-tiba gempa terjadi. Untung saja dia tidak panik dan mendengarkan pengarahan dari radio.
Kru Produksi
Kamerawan: Ujel
Kru: Arif, Asa, Bram, Donny, Ichan, Kevin, Sigit, Upi
Editor: Sigit, Ichan
---------------------------------------------------------------------
Bayi Fitri | Dokumenter | 29 menit 51 detik | 2006
Produksi: Komunitas Matahati
Produser: K. Ardi, Aditya Sanjaya
Manajer Produksi: Tafsiyah
Sutradara, Riset, dan Penulis Skenario: K. Ardi
Sinopsis: Cerita tentang bayi yang mengalami gempa, mengungsi, dan hidup di pengungsian dalam gendongan ibunya.
Kru Produksi
Videografi: Aditya Sanjaya
Editor: Dany "Cublux"
Sound Design: Dany "Cublux"
Penerjemah: Tafsiyah
---------------------------------------------------------------------
Evakuasi Bersama Superwan (5,9 SR Video Project #2)
| Fiksi -- Animasi | 2 menit | 2006
Animator: Anis Ekowindu
Narator: Anis Ekowindu
Produksi: GOING MAD Anime & 5,9sr video project
Sinopsis: Film instruksional, sebuah petunjuk sederhana untuk menyelamatkan orang yang tertimpa reruntuhan akibat gempa.
---------------------------------------------------------------------
Gigih Gayuh Yo... Bar Gempa! | Fiksi | 9 menit 5 detik | 2006
Produksi: The 2 Orang Films
Sinopsis: Obsesi menjadi penyanyi dangdut terkenal sempat teredam setelah gempa terjadi. Tetapi, sebuah gitar butut pemberian almarhumah ayah dan sebuah pesan dari sang manajer berhasil membangkitkan kembali semangat untuk tetap berusaha meraih obsesi tersebut.
---------------------------------------------------------------------
5,9 SR Video Project #3 | Fiksi -- Animasi | 1 menit 37 detik | 2006
Animasi: Andy Seno Aji
Musik: Teguh Hari
Editor: Chandra
Sinopsis: Film ini memberikan pengarahan sederhana untuk persiapan menghadapi gempa susulan. Apa-apa saja yang harus dilakukan ketika gempa tersebut terjadi.
---------------------------------------------------------------------
Nyanyian dari Surga | Fiksi | 17 menit 14 detik | 2006
Produser, Penulis, Sutradara: Eddie Cahyono
Eksekutif Produser: Fourcolours Films
Co-Produser: Ifa Isfansyah, Narina Saraswati
Pemain: Muhammad Fendi Riyadi, Nuryanto "Congo"
Sinopsis: Trauma seorang anak menyebabkan ia tidak bisa menerima kematian ayahnya.
Kru Produksi
Penata Fotografi: Budi Arifianto
Chief Lighting: Sri "Kelik" Nugroho
Lightingman: Ali Purma
Ass. Camera: Danang, Bowo
Editor: Eddie Cahyono
Ass. Editor: Greg Arya
Musik: Krisna Purna Ratmara
Art Director: Arga Aghasa
Ass. Art Director: Nur "Koclok" Hadi, Teguh, Bagus Sumartono
Technical Director: Tri "Si Te" Widiyanto
Ass. Sutradara: Adi "Koplo" Marsono
Make-up dan Wardrobe: Winta, Retno
Production Manager: Yosi Arifianto
Unit Manager: Citra Dewi
Pembantu Umum: Andi
Dalang: Busyairi
Penembang: Panji Kusuma
Driver: Pak Rebo
Musik: "Nyanyian dari Surga" (Krisna Purna Ratmara), "Kuldesak" (Ahmad Dani), "Dunia" (Koesplus), "Pran's theme" (Mike Oldfield), "Truth about Human" (Govinda), "Opening" (Vangelis), "Alibaba" (Karunesh)
---------------------------------------------------------------------
Nomor Penting (5,9 SR Video Project #7)
| Fiksi -- Animasi | 1 menit 48 detik | 2006
Animator: Andy Seno Aji
Sinopsis: Film instruksional, sebuah petunjuk sederhana yang berisi nomor-nomor telepon penting yang dibutuhkan ketika sebuah bencana terjadi.
Wednesday, June 07, 2006
Spesial Screening on June: Ben
Sebuah film garapan Aisyah Amirah.
Reza Anindita Ramadhan "Ben" Ririn gentawati, Rizal Azhari Dzulfikar, Dedi Kurniadi, Erna Diah Utami, Argan Hasta Nugaraha, Besti Rahayu Pratama.
Screenplay: Iqbal Alfajri. Casting Coordinator: Satisfia Ratna Andini, Ratna Andini. Property: Yolanda Istiqomah. Camera: Destri Tsuryya Istiqamah, Satria Adiyasa. Music Director: YD Nafis. Assistand Director: Alif Ulfa Afifah. Unit Manager: Ridla An-Nuur Setiawan, Desti Fatin, Fauziyah. Editor: Aisyah Amirah.
Proudly Present Special Screening,
8 Juni 2006,
Pk. 15:00 - 18:00
Ben bercerita tentang seorang remaja SMA idealis bernama Ben yang ingin membantu adiknya membayar uang SPP. Ben terpaksa membongkar ruang TU sekolah untuk mendapatkan bukti korupsi kepseknya, yang kemudian dijual ke wartawan yang menjanjikan sejumlah uang. Namun rencana Ben tidak berjalan mulus karena begitu banyak masalah yang harus dia hadapi hari itu.
Kalau Pelajar Membuat Film
Review ini dikutip dari blognya Riki (thanks Riki)
Membayar SPP dengan cara membuktikan korupsi kepala sekolah? Bisakah hal itu dilakukan? Sepertinya aneh dan tidak ada hubungannya. Tapi, itulah yang coba dilakukan oleh Ben dalam sebuah film berjudul namanya : Ben.
Dikisahkan, Benny Hariman atau Ben (diperankan oleh Reza Anindita Ramadhan) bangun pagi dengan sejumlah masalah. Dia harus mengganti kaca kelas yang dipecahkannya kemarin gara-gara emosi mendengar kabar korupsi kepala sekolahnya. Ia juga harus mendengar ibunya kembali bertengkar dengan ayahnya yang kena PHK. Dan puncaknya ketika adiknya, Tari (Ria Evrin Tanjung), bercerita kalau harus melunasi SPP-nya besok agar tidak dikeluarkan dari sekolah.
Ben pun kebingungan mencari pinjaman uang. Sebuah ide gila diberikan oleh Rio (Mohammad Irkham Y), sahabat lamanya yang kebetulan bertemu lagi. Ternyata kebetulan Rio kenal dengan wartawan yang memberitakan kasus korupsi kepala sekolah Ben. Dan akhirnya, Ben dijanjikan imbalan apabila berhasil mendapatkan bukti dari korupsi itu.
Dan cerita pun mengalir mengisahkan usaha Ben mencari bukti-bukti di sekolahnya. Tidak mudah, karena sebagian teman-teman sekolahnya ada di sana. Ada yang sedang bermain basket, berlatih teater, belajar fisika, dan rapat di mushola. Ditambah lagi adanya persinggungan dengan geng sekolah saingan yang dipimpin Adon (Rizal Azhari Dzulfikar).
__________
Hal yang paling istimewa dari film yang telah diluncurkan pada bulan Oktober 2005 di Art Cinema, Studio 21, Taman Ismail Marzuki Jakarta ini adalah hampir semua pemain dan krunya masih berstatus pelajar SMA. Pemain yang bukan pelajar hanyalah tokoh Mang Aep (Darmin), penjaga sekolah Ben. Sementara kru yang bukan pelajar ialah Iqbal Alfajri (penulis skenario serta editor) dan YD. Nafis (penata suara). Sedangkan kru lainnya seperti Aisyah Amirah (sutradara), Destri Tsurayya serta Satria Adiyasa (kamera), Yolanda Istiqomah (properti), Alif Ulfa Afifah (asisten sutradara), Ridla An-Nuur (manajer produksi), dan lain-lain, adalah pelajar SMA.
Dan hasilnya tidaklah mengecewakan. Dari segi akting, Reza berhasil menghidupkan tokoh Ben yang idealis tapi tidak punya banyak teman karena sering nyolot (sinis). Rizal yang memerankan Adon juga berperan baik untuk menciptakan ketegangan dalam film. Dengan penambahan jam terbang serta latihan terus-menerus, mereka berdua dan juga para pemain lainnya semoga dapat menjadi aktor-aktor yang berkualitas. Tentu masih ada kecanggungan pada penampilan dalam film ini, karena ini memang merupakan debut sebagai aktor bagi kebanyakan dari para pemainnya.
Ini berbeda dengan para krunya. Kru dari Forum Filmmaker Pelajar Bandung (F2PB) ini sebagian besar telah aktif membuat film pendek sejak mereka masih kelas 1 SMP dengan mentor dari Salman Filmmaker Club di Masjid Salman ITB. Mereka juga tercatat pernah mengikuti festival-festival film independen seperti Festival Film Independen Indonesia (FFII) SCTV, Festival Film Video Independen (FFVI) Konfiden, Jiffest Travelling, dan Festival Film Pendek Bandung.
Selain giat mengadakan workshop produksi film untuk pelajar, mereka juga telah menghasilkan VCD Pembelajaran Produksi Film Pendek lengkap dengan buku panduannya. Ben adalah film panjang independen pertama mereka.
Untuk menyeleksi pemain dalam film Ben, mereka mengadakan casting yang diikuti oleh 80-an pelajar di Bandung. Seluruh proses pembuatan film ini terdokumentasi dengan baik, dan dapat disaksikan dalam VCD behind the scene-nya. Tentunya ini akan bermanfaat bagi penonton yang juga berminat untuk membuat film ataupun sekadar ingin tahu.
Sayangnya, dalam film ini juga terdapat beberapa kekurangan yang cukup terasa. Salah satunya adalah adanya faktor kebetulan yang justru menjadi kejadian kunci. Misalnya saat Ben kebetulan bertemu dengan Rio, dan Rio kebetulan kenal dengan wartawan yang memberitakan kasus korupsi kepala sekolah Ben.
Kekurangan lainnya yaitu terlalu banyaknya pesan moral tambahan di samping pesan utamanya. Pesan tambahan itu terutama dibebankan pada tokoh Ben, sehingga kata-kata hati (narasi) Ben terasa memberatkan film. Pesan-pesan tambahan lainnya juga membuat beberapa adegan terasa melambatkan film. Untungnya ini tidak sampai mengaburkan pesan utamanya.
Bravo filmmaker muda Indonesia!
Tuesday, June 06, 2006
Bulan Film "Life as Ussual" Juni 2006

ME AND YOU AND EVERYONE WE KNOW
15 Juni 2006, Pk. 15:00
Sutradara Miranda July.
Menang di Cannes 2005, Sundace 2005, Philadelphia 2005, San Francisco 2005, Los Angeles 2005. Bercerita tentang Richard (John Hawkes) sales toko sepatu. Berpisah dengan istrinya dan bergantian mengurus dua orang anak laki-lakinya. Sampai Richard bertemu dengan Cristine (Miranda July) saat ia bekerja. Baik Richard maupun Cristine sesungguhnya memiliki keterarikan pada masing-masing. Namun tidak mudah bagi mereka untuk mengungkapkan perasaannya. Menarik melihat karakter dan hubungan antar tokoh-tokohnya. Bagaimana masing-masing karakter membangun dunianya masing-masing dan beririsan satu sama lain dengan cara yang tak terduga. Saya pribadi suka banget bagaimana masing-masing perasaan kesendirian tokoh-tokohnya di gambarkan. Miranda July tak terjebak pada penggambaran klise tentang perasaan sendiri yang mellow dan melankoli. Dia menggambarkannya dengan begitu subtil tanpa banyak kata-kata. Eksperesi yang mungkin saya pun melakukan hal yang sama ketika mengalami perasaan seperti itu. Saya sangat suka dua adegan terakhir. Saat Cristine memeluk Richard dari belakang, ketika Richard sedang memperhatikan foto burung yang dia pasang di dahan pohon depan rumahnya, saya merasakan mereka seperti dua orang yang selama ini tak dimengerti oleh sekelilingnya, kemudian bertemu dan tanpa harus bercerita banyak. Hanya dengan memeluknya, mereka bisa saling bercerita banyak hal, bertukar perasaan dan memahami satu sama lain. Juga adegan ketika anak kedua Richard mencari tahu suara apakah yang selama ini dia dengar setiap subuh. Keren. Saya suka banget film ini. Bintang empat dari saya.
PALINDROMES
22 Juni 2006, Pk.15:00
Sutradara: Todd Solondz
Film ini membuat saya terkesima dengan pendekatan visual yang dilakukan Todd untuk menggambarkan perubahan karakter tokoh utamanya Aviva. Bagi saya, Todd berhasil menggambarkan 'Palindromes' dengan sangat baik. Seperti sebuah nama yang mau kau bulak balik sedemikian rupa, tetap saja sama ga berubah. Bagi penggemar film-film dengan pendekatan cerita 'menyusun puzzle', film ini mungkin tidak seintens Amores Perros, tapi sensasi sureal dari kepingan-kepingan hidup yang seringkali terasa seperti mimpi, tergambar dengan sangat baik di sini. Dari segi cerita, Palindromes, menawarkan berbagai kemungkinan sekaligus kritik atas hipokrasi agama ketika berhadapan dengan persoalan moral dan kemanusiaan.
Mark Wiener: People always end up the way they started out. No one ever changes. They think they do but they don't. If you're the depressed type now that's the way you'll always be. If you're the mindless happy type now, that's the way you'll be when you grow up. You might lose some weight, your face may clear up, get a body tan, breast enlargement, a sex change, it makes no difference. Essentially, from in front, from behind. Whether you're 13 or 50, you will always be the same.
'Mark' Aviva Victor: Are you the same?
Mark Wiener: Yeah.
'Mark' Aviva Victor: Are you glad you're the same?
Mark Wiener: It doesn't matter if I'm glad. There's no freewill. I mean, I have no choice but to chose what I choose, to do as I do, to live as I live. Ultimately, we're all just robots programmed abritrarily by nature's genetic code
'Mark' Aviva Victor: Isn't there any hope?
Mark Wiener: For what? We hope or despair because of the way we've been programmed. Genes and randomness, that's all there is and none of it matters.
'Mark' Aviva Victor: Does that mean you're never going get married and have children?
Mark Wiener: I have no anent desire to get married or have kids. But that's beyond my control. Really, it makes no difference. Since the planet's fast running out of natural resources and we won't make it into the next century.
'Mark' Aviva Victor: What if you're wrong? What if there is a God?
A HOME AT THE END OF THE WORLD
29 Juni 2006, Pk. 15:00
Sutradara: Michael Mayer
Sebuah klise dari kehilangan orang-orang yang sangat kita sayangi. Tapi bukankah hidup seringkali membuat kita melakukan dan bereaksi secara klise. Hey, come on, we're only human, arent we? Nikmatilah ke klisean itu.
Film bulan Juni pilihan: tarlen
Sunday, May 07, 2006
Jadwal Lengkap JIFFest dan ScreenDocs, Bandung 9-11 Mei 2006
ITHB (Institut Teknologi Harapan Bangsa) Jl. Dipatiukur Bandung
10:00 - 12:00 Don't Move /Non Ti Muovere (Sergio Castellitto- Italy/Spain/UK/ 2004/Drama)
12:00 - 12:30 ISTIRAHAT
12:30 - 13:30 The Other Final (Johan Kramer - Netherland/2005/Documentary)
13:30 - 15:00 Mana: Beyond Belief (Peter Friedman, Roger Manley - USA/France 2004/Documentary)
15:00 - 16:30 Hush Hush Baby /Shouf Shouf Habibi (Albert Ter Heerdt - Netherland/2004/Drama/Comedy)
ITB Campus Center, Galeri Ipteks Jl. Ganesa 10 Bandung
13:00- 15:00 Le Grand Voyage/The Grand Journey (Ismael Ferroukhi- France/Maroko 2004/Drama)
15:00 -16:00 DISKUSI Pengenalan Script Writing pembicara Orlow Seunke
16:00 - 17:00 In-Docs I (Aceh) Sejarah Negeri yang Karam (Ronny Chandra, Agus Salim/Indonesia/2005/ 18 menit); Ubat Ate Ubat Sosah (Alex Sihar/Indonesia/2005/15 menit); Atjeh Lon Sayang (Syaiful Halim/Indonesia/ 2005/25 menit)
Sunday's Jl, Lombok 43 Bandung
10:00 - 12:00 The Return/Vozvrashcheniye (Andrei Zvyagintsev - Russia/2004/Drama)
12:00 -12:30 ISTIRAHAT
12:30 - 13:30 The President Versus David Hicks (Curtis Levy, Bentley Dean/Austalia/2004/Documentary)
13:30- 15:00 In-Doc II (Irian) Lukas Moment (Aryo Danusiri/Norway/Indoenesia/ 2005/60 menit); Kitorang Pu Mama (Tony Trimarsanto/Indonesia/2005/33 menit)
15:00 - 17:00 Take My Eyes/ Te Doy Mis Ojos (Iciar Bollain - Spain 2003/Drama/Family/Romance)
Room #1 Jl. Citarum 32 Bandung
12:30 - 14:30 Old Boy (Park Chan Wook/South Korea/2003/action/Mystery/Thriller)
14:30 - 16:00 Noi The Albino/Noi Albinoi (Dagur Kari - Iceland/UK/Denmark/Germany/ 2002/Drama)
Rabu, 10 Mei 2006
Unpad Jatinangor, Aula PSBJ Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21 Jatinangor
10:00 - 12:00 The Return/Vozvrashcheniye (Andrei Zvyagintsev - Russia/2004/Drama)
12:00 -12:30 ISTIRAHAT
12:30 - 13:30 In-Docs I (Aceh) Sejarah Negeri yang Karam (Ronny Chandra, Agus Salim/Indonesia/2005/ 18 menit); Ubat Ate Ubat Sosah (Alex Sihar/Indonesia/2005/15 menit); Atjeh Lon Sayang (Syaiful Halim/Indonesia/2005/25 menit)
13:30- 14:30 DISKUSI Dokumenter Sebagai Treatment of Actuality Narasumber: Alex Sihar (Film maker), Maryoso, Drs., MA. (Fakultas Sastra UNPAD). Moderator: Evi
14:30 - 16:00 The Five Obstructions/De Fem Benspaend (Lars Von Trier, Jorgen Leth - Denmark 2003/Dokumenter)
UIN Sunan Gunung Djati, Gedung Segi/Galeri UIN SGD Jl. A.H. Nasution 105 Cipadung-Cibiru, Bandung
10:00 -12:00 Le Grand Voyage/The Grand Journey (Ismael Ferroukhi- France/Maroko 2004/Drama)
12:00 - 12:30 ISTIRAHAT
12:30-14:00 The Other Final (Johan Kramer - Netherland/2005/Documentary)
14:00-15:00 In-Doc II (Irian) Lukas Moment (Aryo Danusiri/Norway/Indoenesia/ 2005/60 menit); Kitorang Pu Mama (Tony Trimarsanto/Indonesia/2005/33 menit)
15:00 - 16:00 Until The Violence Stop (World Vday) (Abby Epstein/USA 2003/Documentary)
STBA Lantai Merah Kamput STBA Jl. Cihampelas 194 Bandung
10:00 - 12:00 The Sea Inside /Mar Adento(Alejandro Amenabar- Spain/France/Italy/2004/ Drama)
12:00 - 12:30 ISTIRAHAT
12:30 - 14:00 Whisky (Juan Pablo Rebella, Pablo Stoll - Uruguay/Argentina/Germany/2004/Drama)
14:00-15:30 Sister In Law (Kim Longinotto, Florence Ayisi/UK/2005/Documentary)
15:30 -17:00 Bombon the Dog/Bombon El Perro (Carlos Sorin - Argentina/Spain/2004/Drama/Comedy)
ITB Campus Center, Galeri IPTEKS ITB Jl. Ganesa 10 Bandung
12:30- 13:30 Take My Eyes/ Te Doy Mis Ojos (Iciar Bollain - Spain 2003/Drama/Family/Romance)
13:30 - 14:30 The President Versus David Hicks (Curtis Levy, Bentley Dean/Austalia/2004/Documentary)
14:30 -15:30 In-Docs III (Metro Eagle Award 2005) Kami Anak Indonesia? (Shalahuddin Siregar/Indonesia/2005/ 20 menit); Joki Kecil (Yuli Andari M., Anton Susilo/Indonesia/2005/20 menit); Rute Menantang Bahaya (Ressi Dwiana dan Duma Yanti (Indonesia/2005/18 menit)
15:30 -17:00 Mana: Beyond Belief (Peter Friedman, Roger Manley - USA/France 2004/Documentary)
Kamis, 11 Mei 2006
Bale Pustaka Jl. Jawa 6 Lt. 2 (Gedung Pastoral Keuskupan) Bandung
10:00 - 12:00 The Sea Inside /Mar Adento(Alejandro Amenabar- Spain/France/Italy/2004/ Drama)
12:00 -12:30 ISTIRAHAT
12:30 - 14:00 Peace One Day (Jeremy Gilley - UK/2004/Documentary)
14:00 - 15:00 Bride Kidnapping in Kyrgyztan (Petr Lom -Canada/Kyrgzstan 2004/Documenter)
15:00 - 16:00 Prostitution Behind The Veil /Prostitution Bag Sloret (Nahid Persson - Irak/Denmark/Sweden 2004/ Documentary)
UNPAS Aula Kampus 4 Jl. Setiabudi 193 Bandung
10:00 - 12:00 Don’t Move /Non Ti Muovere (Sergio Castellitto- Italy/Spain/UK/ 2004/Drama)
12:00 -12:30 ISTIRAHAT
12:30 - 14:00 The Other Final (Johan Kramer - Netherland/2005/Documentary)
14:00 - 15:30 Bombon the Dog/Bombon El Perro (Carlos Sorin - Argentina/Spain/2004/Drama/Comedy)
UPI Gedung PKM-UPI Jl. Dr. Setiabudi 229 Bandung
10:00 - 12:30 Taegukgi/The Brotherhood of War (Je gyu kang -South Korea/2004/Drama/Action/War)
12:30 -13:00 ISTIRAHAT
13:00 -14:00 Prostitution Behind The Veil /Prostitution Bag Sloret (Nahid Persson - Irak/Denmark/Sweden 2004/ Documentary)
14:00 - 15:00 Bride Kidnapping in Kyrgyztan (Petr Lom -Canada/Kyrgzstan 2004/Documenter)
15:00 - 16:30 Mana: Beyond Belief (Peter Friedman, Roger Manley - USA/France 2004/Documentary)
Hanz's Jl. Cigadung Raya Barat 3 Bandung
18:00 -19:30 Hush Hush Baby /Shouf Shouf Habibi (Albert Ter Heerdt - Netherland/2004/Drama/Comedy)
19:30-21:00 Whisky (Juan Pablo Rebella, Pablo Stoll - Uruguay/Argentina/Germany/2004/Drama)
Special Screening
Pre Screening 7 Mei 2006
TRL Bar Jl. Braga 115 Lt. 2 Bandung
19:00 - 20:00 Kompilasi Film Pendek dari kampus UPI
20:00 - 21:00 Ben
Screening Khusus, 14 Mei 2006
Common Room Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung
10:00 -15:00 Pemutaran Film dan Workshop Penulisan Review Film kerjasama dengan Kineruku
16:00 -17:30 Screening Dokumentasi Video Asia Europe Art Camp 2005
18:30 -20:00 Anak Naga Beranak Naga
Sunday, April 30, 2006
Friday, April 21, 2006
Sinopsis Film-film JIFFest dan ScreenDocs Travelling Bandung
Bombon El Perro (Bómbon The Dog)
Carlos Sorin/ Argentina/Spain 2004 Drama/Comedy 97 minutes Color Spanish (with English subtitles)
Juan, who just lost his job, attempts to sell knives to make a living. Nobody wants the knives, but he never loses his kind cheerfulness. One day, Juan is given a pure-bred hunting dog called Bombon, after he helps a stranded motorist. Not knowing what to do with the animal, Juan meets a dog trainer named Walter, who suggests they train Bombon and to show it at a dog competition. The three of them form a partnership, as Bombon begins to change his masters' lives. With its humor and impressive landscapes, this film takes social-realism to heart.
Juan, seorang pengangguran, mencoba menjual pisau. Walaupun tidak ada orang yang membeli pisaunya, Juan tidak kehilangan keceriannya. Suatu hari, ia dihadiahi seekor anjing pemburu bernama Bombon. Juan kemudian bertemu pelatih anjing bernama Walter, yang menyarankan untuk melatih Bombon agar bisa bersaing dalam kompetisi anjing. Juan, Walter, dan Bombon bergabung dalam satu tim; dan Bombon mulai mengubah hidup tuannya. Film dengan humor dan panorama yang dahsyat ini juga menyentuh realita sosial.
Carlos Sorin made his directorial debut with La Pelicula del Rey (1986), that won a Goya Award for Best Spanish Language Foreign Film and Silver Lion at Venice Film Festival. After spending a long period in commercial works, he returns to make feature, Historias Mínimas (2002), the winner of the Special Jury Prize at the San Sebastian Festival.
Winner of FIPRESCI Prize, San Sebastián International Film Festival 2004.
___________
Bride Kidnapping in Kyrgyzstan
Petr Lom/Canada / Kyrgyzstan 2004 Documentary 51 minutes Color Russian/ Kyrgyz/ English (with English subtitles)
Kairgul is calmly awaiting the school bus. She would never suspect that the man hanging out on the curb harbors evil intentions, but a moment later he pushes her into a passing car and kidnaps her. "I don't want to be late for school," she shouts. "Your classes are over," he responds. In Kyrgyzstan, a former Soviet Republic, men abduct a bride if they are not rich enough to pay a dowry. About half of Kyrgyz marriages are affected by kidnappings, incidents that sometimes end tragically with a young woman's death.
Kairgul menunggu bus sekolah. Dia tidak mencurigai laki-laki yang berdiri di trotoar, yang dalam sesaat mendorongnya masuk ke mobil dan menculiknya. "Saya tidak mau terlambat sampai di sekolah", teriak Kairgul. "Sekolahmu sudah usai", jawab laki-laki. Di Kyrgyzstan, pecahan Uni Soviet, para lelaki menculik perempuan bila mereka tidak bisa membayar mahar. Separuh perkawinan di sana disertai oleh penculikan yang hanya dikehendaki pihak laki-laki. Kadang penculikan berakhir tragis dengan kematian pihak perempuan.
Petr Lom, a PhD in political philosophy from Harvard, taught at several universities, wrote a scholarly book on skepticism, and translated a book of Czech philosophy. He gave up his career in the university in 2004 to pursue a full-time career as a documentary filmmaker. Bride Kidnapping in Kyrgyzstan is his first film.
Winner of Jury Award, United Nation Film Festival 2005; Official selection, International Documentary Film Festival Amsterdam 2004.
________
Five Obstructions, The (De Fem Benspænd)
Lars VonTrier, Jorgen Leth/Denmark 2003 Documentary 90 minutes Color Danish/English/French/Spanish with English subtitles
Lars von Trier idolizes Jørgen Leth and has watched his short film, The Perfect Human, 20 times. Now he challenges him to remake this short. Leth is dispatched to various locations around the world while von Trier issues a series of rules about how the remake must proceed: Each take must be 12 frames; no sets allowed; Leth must play the lead role himself; the whole thing must be made as a cartoon. As Leth struggles with these limitations we see the artistic process laid bare, resulting in a fascinating, never-before-seen kind of film.
Von Trier menonton film idolanya, Jørgen Leth, The Perfect Human lebih dari 20 kali. Ia menantang Leth untuk membuat ulang film tersebut di berbagai lokasi di dunia. Von Trier menentukan syarat: setiap adegan harus sebanyak 12 gambar; tidak diperkenankan membuat setting; peran utama harus dimainkan sendiri oleh Leth; semuanya harus dibuat sebagai animasi. Proses artistik terlihat mendominasi ketika Leth berusaha memenuhi tantangan yang sulit namun menyenangkan ini. Hasilnya: sebuah film yang amat unik.
Lars Von Trier’s films Breaking the Waves (1996) won the Grand Prix at Cannes. In 2000, von Trier premiered a musical film featuring the musician Björk, Dancer in the Dark. The film won the Palme d'Or at Cannes. (Nominee of Best Documentary Award, European Film Awards 2003).
_________
Le Grand Voyage (The Grand Journey)
Ismael Ferroukhi/France/Maroko 2004 Drama 108 minutes Color French/Arabic/English/Italian/Turkish with English subtitle
An old Moroccan father believes that the end of his life is near, and there is nothing he wants more than to make a holy pilgrimage. He recruits his agnostic, French-raised son, Réda, to accompany him on a car trip from their home in a French suburb through Europe and the Middle East to Mecca. The huge gap between the two and the lack of intimacy in their relationship sparks a series of conflicts. The journey serves as a backdrop for a moving and heartwarming road comedy on reconciliation between father and son.
Seorang ayah berkebangsaan Maroko ingin menunaikan ibadah haji karena percaya ajalnya sudah dekat. Ia meminta anak laki-laki bungsunya yang lahir dan dibesarkan di Perancis, dan sama sekali bukan seorang muslim yang taat, untuk menyetir mobil dari Perancis ke Mekah. Perbedaan prinsip hidup dan kekakuan hubungan di antara mereka berdua menimbulkan konflik selama di perjalanan. Rekonsiliasi antara ayah dan anak melatari sebuah film yang hangat dan menyentuh ini.
Le Grand Voyage is Ferrouhki’s first feature length film. He has received high regards for his short films: L’Expose, which premiered at Cannes in 1993.
Best Film, Mar del Plata Film Festival 2005; Best Debut Film, Venice Film Festival 2004.
_______
Mana: Beyond Belief
Peter Friedman, Roger Manley/USA/France 2004 Documentary 92 minutes Color 16 Languages with English subtitle
What do giant tuna fish have in common with Elvis's guitar? Mana - a Polynesian word for power or prestige. Mana - Beyond Belief is a trip around the world from a Navajo medicine man's mud-covered hogan to the eternity of space, from the most ancient of technologies to the most complex, from the concrete world of objects to the projected world of values, and from an individual's attempt to comprehend the secret powers surrounding him to the power our own minds give us to shape our experiences.
Apa persamaan ikan tuna raksasa dan gitar Elvis? “Mana” adalah kata dari bahasa Polinesia untuk kekuatan atau reputasi. Film ini mengelilingi dunia dari suku Navajo ke keabadian alam semesta, dari teknologi yang paling sederhana ke teknologi yang paling canggih, dari obyek dunia materialistik ke proyeksi nilai-nilai universal, dan dari usaha individu untuk mengerti rahasia kekuatan yang melingkupi dirinya ke kekuatan pikiran yang membuat manusia mampu mendefinisikan hal-hal yang kita alami.
Friedman’s films include Death by Design (1995) and Silverlake Life (1993; is "One of the 10 Best Films of the Year" by the Los Angeles Times, USA Today, and the Boston Globe). Manley won film awards including the Andrew Carnegie Medal (1998, 1991), a CINE Golden Eagle, and Best Feature Screenplay in Washington Film Festival.
Opening film, San Fransisco Documentary Film Festival 2005; World Premiere in competition, International Documentary Film Festival Amsterdam 2004.
__________
Nói Albínói (Noi The Albino)
Dagur Kari/Iceland/UK/Denmark/Germany 2002 Drama 93 minutes Color Icelandic/French with English subtitle
Is he the village idiot or a genius in disguise? 17-year-old Nói drifts through life on a remote fjord in northern Iceland. He dreams of escaping this white-walled prison with Iris, a city girl who works at the local gas station. But his clumsy attempts to get away are out of control and end in total failure. Only a natural disaster can shatter Nói's universe and offer him a window onto a better world. This debut feature by director Dagur Kári has the melancholic tone that brings to mind the innocent entertainment of Aki Kaurismäki’s films.
Apakah dia seorang idiot atau jenius terselubung? Nói yang berumur 17 tahun menjalani hidup di bagian Islandia utara yang terpencil. Ia bermimpi kabur dari sana bersama Iris, gadis kota yang ebkerja di pom bensin. Usahanya yang ceroboh tidak terkendali, dan berakhir dengan kegagalan. Hanya bencana alam yang bisa mengubah dunia Nói dan menawarkan jendela baru baginya. Karya pertama dari sutradara Dagur Kári ini memiliki nuansa melankolik yang mengingatkan kita kepada kepolosan humor dalam film Aki Kaurismäki. Icelandic filmmaker born in 1973.
Graduated from the National Film School of Denmark in 1999. His graduation film LOST WEEKEND won 11 international prizes, including Brest, Angers, Poitiers, Munich and Tel Aviv.) NÓI ALBINÓI is Dagur Kári’s first feature-film. Dagur Kári also works as a musician with the band “slowblow” which has released two albums and composed the soundtrack of Nói Albinói. He is currently working on a Dogma film in Copenhagen.
Special Commendation, Guardian New Directors Award, Edinburgh 2003.
__________
Non Ti Muovere (Don’t Move)
Sergio Castellitto/Italy/Spain/UK 2004 Drama 125 minutes Color Italian with English subtitle
A rainy day. A car fails to stop at a red light. A fifteen-year old girl is thrown off her scooter. The ambulance races towards the hospital - the same hospital where the girl’s father works as a surgeon. The terror of this extreme event causes him to cast aside his mask of a steadfast, if cynical, model father and husband, to reveal an estranged and violent self. In an attempt to fill the silence of coma with words, death with life, he conducts an imaginary conversation with his daughter in which he reveals a painful secret – the seemingly squalid story of a powerful and visceral extra-marital love affair.
Hujan sepanjang hari. Sebuah mobil menembus lampu merah. Seorang gadis terlempar dari sekuternya. Ambulans membawa gadis ke rumah sakit tempat ayahnya bekerja sebagai ahli bedah. Insiden ini membuka lembaran lain dari seorang kepala keluarga dan suami yang dingin dan sinis. Di antara keheningan di sekitar anaknya yang mengalami koma, sang ayah membangun percakapan khayalan dengan anaknya, dan mengungkap rahasia yang menyakitkan dari sebuah perselingkuhan.
Sergio Castellitto was born in Italy in 1953. He is an actor whose films competed in Cannes Film Festival, such as VA SAVIOR (2001) and L'ORA DI RELIGIONE (IL SORRISO DI MIA MADRE) (2002, directed by Marco Bellocchio).
Nominee of Best Film, Bangkok International Film Festival 2005; Winner of Audience Award for Best Actress, European Film Awards 2004.
_______
Old Boy
Park Chan-Wook/South Korea 2003 Action/Mystery/Thriller 120 minutes Color Korean (with English subtitles)
An ordinary man named Oh Dae-su, who lives with his wife and daughter, is kidnapped and later wakes up in a private prison. He makes attempts to escape and to commit suicide, but they end up in failure. All the while Dae-su asks himself what made a man hate him so much enough to imprison him without any reason. Dae-su becomes shocked when he watches the news and hears that his beloved wife was brutally murdered. At this very moment, Dae-su swears to take revenge on the man who destroyed his happy life.
Laki-laki bernama Oh Dae-su tinggal bersama anak dan istrinya. Ia diculik dan dipenjarakan oleh sekelompok orang tak dikenal. Ia frustasi: berusaha melarikan diri dan bahkan mencoba bunuh diri, namun semuanya menemui kegagalan. Dae-su tidak mengerti apa yang membuat orang begitu membenci diriya, sehingga ia di penjara tanpa alasan yang jelas. Dae-su lalu kaget mendengar berita bahwa istrinya dibunuh secara keji. Mulai saat itu ia bertekad membalas dendam kepada orang yang menghancurkan hidupnya.
Park Chan-wook founded a film club at Sogang University, where he developed a strong interest in film theory as a student. His films include The Moon is the Sun's Dream (1992), Trio (1997), Joint Security Area (2000), Sympathy for Mr. Vengeance (2002).
Winner of Grand Prize of The Jury for Best Film, Cannes Film Festival 2004; Best Foreign Film, British Independent Film Awards 2004.
________
Other Final, The
Johan Kramer/Netherlands 2005 Documentary 78 minutes Color English
During the 2002 World Cup Finals, far from the international spotlight, another football game was played. The two lowest ranked FIFA teams in the world, Montserrat, a Caribbean islands nation, and Bhutan, a remote Himalayan monarchy ("His Majesty used to be a very good goalkeeper") square off against each other. This delightful film manages to capture not just the pure joy of the sport - as experienced without the commercialization of the developed world - but also documents a fascinating meeting of two very unique and different cultures.
Pada final Piala Dunia 2002, pertandingan sepak bola lain dimainkan di Bhutan. Dua negara urutan terbawah di dunia versi FIFA, Montserrat, negara di Kep. Karibia, dan Bhutan, kerajaan di himalaya (Raja dulu menjadi penjaga gawang yang tangguh) saling bertanding. Film ini menangkap pengalaman berolahraga tanpa dipengaruhi komersialisasi, dan merekam keunikan pertemuan dua kebudayaan yang amat berbeda.
Johan Kramer’s first short film The Day Bob Was Saved By Modern Technology is selected for Resfest 2002, the world's most prestigious digital entertainment festival.
Best Documentary, Avignon Film Festival 2003.
________
Peace One Day
Jeremy Gilley/UK 2004 Documentary 80 minutes Color English (with English subtitles)
A man attempts to persuade the global community via the U.N. to officially sanction a day of non-violence; a day of peace. This documentary charts the remarkable 6-year journey of the filmmaker as he meets heads of state, Nobel Peace Laureates, aid agencies, freedom fighters, media moguls, the innocent victims of war and, eventually, everyone at the UN. An individual genuinely can make a difference: The UN International Day of Peace is now held on 21 September annually. The real challenge has now begun - to get the world to unite on a day fast approaching.
Seorang pria berusaha mengajak komunitas global melalui PBB untuk memperingati satu hari tanpa kekerasan: hari perdamaian. Film ini mengikuti 6 tahun perjalanan pembuat film saat dia bertemu kepala pemerintahan, pemenang Nobel perdamaian, lembaga donor, pejuang kebebasan, media, korban perang, dan orang-orang di PBB. Usaha ini membuahkan hasil: Hari Perdamaian internasional sekarang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 21 September. Tantangan berikutnya adalah mempersatukan seluruh dunia.
Since 1994 Gilley directed and produced several short films before attempting PEACE ONE DAY, an ambitious film experiment to see if an individual, through the medium of film, could make a difference in the world.
Nominee of Best Documentary, British Film Independent Awards 2004.
________
President Versus David Hicks, The
Curtis Levy, Bentley Dean/Australia 2004 Documentary 52 minutes Color English
After returning home from volunteer military service in Kosovo, Australian David Hicks heads for Pakistan and ends up in an Al-Qaeda training camp in Afghanistan. David’s father follows the same route and discovers that his son has become a Muslim fundamentalist. In 2002, David is taken for interrogation to the US Naval Base in Guantanamo, Cuba. President Bush labels him an unlawful combatant and David is denied the rights of and ordinary prisoners-of-war. Even his family is prohibited from visiting him. But is he really a terrorist?
Sepulangnya dari Kosovo sebagai tenaga relawan militer, David Hicks berangkat ke Pakistan dan mengikuti latihan di markas Al-Qaeda di Afghanistan. Ayah Hicks mengikuti rute yang sama, dan menemukan bahwa anaknya telah menjadi seorang fundamentalis Muslim. Tahun 2002, David diinterogasi militer AS di Guantanamo, Kuba. Presiden Bush menyebut David Hicks sebagai prajurit ilegal sehingga David tidak mendapatkan hak sebagaimana tahanan perang biasa. Bahkan keluarga David dilarang mengunjunginya. Tapi apakah ia seorang teroris?
Many of Levy films have been biographical films. Sons of Namatjira (1976) about the Aboriginal artist and his relationship to the world around his camp in the desert; Hephibah (1998) about the concert pianist and human rights activist, and High Noon in Jakarta (2002), an intimate portrayal of the President of Indonesia, Abdurrachman Wahid.
Best Documentary, Australian Film Institute 2004
_________
Prostitution Behind The Veil (Prostitution Bag Sloret)
Nahid Persson/Irak/Denmark/Sweden 2004 Documentary 58 minutes Color Persian & English (with English subtitles)
Prostitution Behind the Veil opens a window onto the difficult lives of Minna and Fariba, two single young mothers trying to make the best of their situation in a society that affords few opportunities to women in their position. With no other option, they are forced to take their small children with them into the potentially dangerous world of their adopted profession. As neighbors in cheap, single-room housing in the heart of bustling Tehran, they share their stories, their anger and their drugs.
Film ini menghantarkan kita ke kehidupan keras Minna dan Fariba, dua janda yang bertahan hidup di tengah masyarakat Teheran yang jarang sekali memberikan kesempatan kepada perempuan di posisi seperti mereka. Tanpa pilihan lain, mereka terpaksa mengajak anak-anak mereka dalam mengarungi dunia pelacuran yang penuh bahaya. Dari sebuah kamar di daerah kumuh di tengah kota, Minna dan Fariba menuturkan kisah mereka, diwarnai oleh kemarahan dan ketergantungan pada obat terlarang.
Nahid Persson’s films include: Me and My Cousin (Jag och min kusin, 2003), The Last Days of Life (I livets slutskede, 2002), and End of Exile (Sjutton år av längtan, 2000). Her most recent film, Prostitution Behind the Veil, was awarded First Prize at the Marseille Festival International du Documentaire.
Best News Documentary, Monte-Carlo TV Festival 2005.
___________
Sea Inside, The (Mar Adentro)
Alejandro Amenábar/Spain/France/Italy 2004 Drama 125 minutes Color Spanish (with English subtitles)
Golden Globe nominee Javier Bardem delivers a subtle and affecting performance as Ramón, a former ship mechanic who has been paralyzed for 30 years. Since his injury, Ramón is known for his warm smile and wisdom, but still he fights for the right to end his life with dignity. Ramón's world is opened anew by the arrival of Julia, a lawyer who supports his case; and Rosa, a single mother who can't hold a job and has a catastrophic history with men. The two women’s encounters with Ramón will forever change their lives and his.
Javier Bardem, dinominasikan meraih Golden Globe untuk akting yang menawan sebagai Ramón, mantan pelaut yang telah cacat selama 30 tahun. Sejak ia mengalami cedera, Ramón terkenal dengan senyum hangat dan kearifannya; namun ia terus mengupayakan hak untuk mengakhiri hidupnya. Ramón keluar dari kungkungan dunianya sejak kehadiran Julia, pengacaranya, dan Rosa, seorang ibu yang kikuk dan memiliki pengalaman buruk berhubungan dengan pria. Hubungan Ramón dan kedua wanita itu mengubah hidup mereka semua.
Alejandro Amenábar was already a Spanish cinema sensation before he notched his hit with the slyly old-fashioned thriller The Others (2001). His talent was confirmed with Abre los ojos (Open Your Eyes ) (1997), starring Eduardo Noriega and Penélope Cruz.
Best Foreign Language Film, Academy Awards 2005; Best Foreign Language Film, Golden Globes 2005; Best Actor, Venice Film Festival 2004.
__________
Shouf-Shouf Habibi ! (Hush Hush Baby)
Albert Ter Heerdt/Netherland 2004 Drama/Comedy 89 minutes Color Ducth/Arabic (with English subtitles)
Ab is a dutch-born Maroccan kid who is trying to find his place in Dutch society. The way Ab sees it, he has two choices in life: live like his brother and sister, who are more dutch, or maintain the family tradition and marry a woman from Marocco. Until Ab can figure it out, things only seem to get worse. A comedy with high-spirited dialogue, a tight plot and a sparkling tone. It is a film about cultural differences, tradition and change, about fighting spirit and deceit, love and hate. It is a universal story of dreamers looking for themselves.
Ab seorang anak Maroko kelahiran Belanda yang mencoba beradaptasi dengan masyarakat Belanda. Ia melihat ada 2 pilihan: bersikap seperti layaknya orang Belanda, atau setia dengan tradisi dan menikahi perempuan dari Maroko. Sebelum Ab menemukan jawaban, situasi di sekelilingnya memburuk. Sebuah komedi penuh dengan optimisme, tentang cinta dan benci. Kisah universal tentang pemimpi yang mencari jati dirinya.
Albert Ter Heerdt studied literature and film at Amsterdam University and has worked primarly as a writer of television series, some of which he also directed. SHOUF SHOUF HABIBI! marks his cinematic debut as both writer and director.
Winner of Dutch Film Critics Award and Special Jury Prize, Nederlands Film Festival 2004.
_______
Sister In Law
Kim Longinotto, Florence Ayisi/UK 2005 Documentary 106 minutes Color English (with English subtitles)
Sisters In Law is a captivating and often hilarious look at the justice system in a small town in Cameroon, where a progressive-minded female judge and lawyer forcefully intervene in cases of abuse toward women and children. It also offers a rare and positive glimpse of law being used to change patterns of social injustice. The three interwoven stories here are offered by the directors to counter prevailing stereotypes and make the point there is more to Africa than poverty, misery and injustice.
Film ini amat berkesan dalam menyajikan potret sistem pengadilan di kota kecil di Kamerun, di mana seorang hakim dan seorang pengacara perempuan menghadapi kasus penganiayaan perempuan dan anak. Sisters in Law dengan baik juga menunjukkan bahwa hukum dapat digunakan untuk mengatasi ketimpangan sosial. Tiga cerita dipilih dan dirangkai oleh sutradara, untuk menyadarkan khalayak umum bahwa Afrika tidak melulu bercerita tentang kemiskinan, penderitaan, dan ketidakadilan.
Kim Longinotto gained international recognition from her hard-hitting documentaries. Her works include Divorce Iranian Style (1998), Runaway (2001), The Day I Will Never Forget (2003). Florence Ayisi studied filmmaking at the Northern School of Film and Television in Leeds. Winner of C.I.C.A.E. Award, Cannes Film Festival 2005
_________
Taegukgi (The Brotherhood of War)
Je-gyu Kang /South Korea 2004 Drama/Action/War 140 minutes Color Korean (with English subtitles)
Jin-Tae shines shoes in favor of sending his younger brother, Jin-Seok, to the university. Jin-Seok later is unwillingly conscripted into the Korean War. In order to free his brother, Jin-Tae is forced to join the same war. He enlists in suicidal missions to earn the Medal of Honor, which will guarantee Jin-Seok’s release. Jin-Seok fails to understand his brother's actions and misinterprets them as a mix of patriotism and an obsession with fame and glory. Taegukgi is a very touching, dramatic box-office film in Korea.
Jin-Tae bekerja sebagai penyemir sepatu, agar dapat mengirimkan adiknya, Jin-Seok, ke universitas. Ketika perang Korea dimulai, Jin-Seok ditugaskan sebagai prajurit. Jin-Tae terpaksa bergabung dengan militer untuk menyelamatkan Jin-Seok. Dia mengikuti misi- misi berbahaya untuk memperoleh medali kehormatan, yang bisa menjamin pembebasan adiknya. Jin-Seok menafsirkan hal yang dilakukan Jin-Tae sebagai patriotisme dan obsesi atas ketenaran dan kemenangan. Taegukgi menjadi film terlaris di sepanjang sejarah perfilman Korea.
His directorial debut, the box office film in Korea 1996, The Gingko Bed, won numerous awards and critical acclaims. In 1999, Kang's 2nd feature Shiri brought further success captivating over 6 million viewers nationwide. The film was the catalyst for the current boom and major commercial exposure of Korean films in overseas markets.
Best Actor, Best Cinematography & Best Editing, Grand Bell Awards-South Korea 2004.
__________
Take My Eyes (Te Doy Mis Ojos)
Icíar Bollaín/Spain 2003 Drama/Family/Romance 109 minutes Color Spanish (with English subtitles)
Laia Marull delivers a dazzling performance as Pilar, a housewife fleeing from her abusive husband Antonio. With her son and a few belongings, she tries to build a new life. But Pilar’s path is complicated by her lingering affection for Antonio, her son's repeated requests to see his father, and her own mother's incessant reminders on the sanctity of marriage. Antonio desperately tries to win Pilar back. He attends therapy sessions to work through his anger. Take My Eyes is an emotional film that poses tough questions about violent men and the women who love them.
Laia Marull secara memukau memerankan Pilar, seorang istri yang melarikan diri dari suami berperilaku kasar, Antonio. Ditemani anak laki-lakinya, Pilar memulai hidup baru. Hal ini tak mudah: ia masih memendam rindu kepada Antonio, anaknya merengek ingin bertemu dengan sang ayah, dan ibu Pilar dengan cerewet mengingatkan tentang kesucian perkawinan. Antonio berusaha keras agar Pilar mau kembali. Dia mengikuti terapi untuk mengatasi amarahnya. Take My Eyes berbicara tentang kesetiaan hati seorang istri di balik kekerasan rumah tangga.
Icíar was nominated for Best Actress by the Spanish Academy Awards in film Nos miran (2002). In 1995 she wrote and directed her feature film debut, Hola, ¿estás sola? (1995) won Best New Director and Audience Award in Valladolid International Film Festival and was nominated for Best Directorial Debut at Goya Awards Spanish Film Academy.
Best Actor, Seattle International Film Festival 2004; Best Film, San Sebastián International Film Festival 2003.
_________
Return, The (Vozvrashcheniye)
Andrei Zvyagintsev/Russia 2004 Drama 105 minutes Color Russian (with English subtitles)
Vanya and Andrey’s father has just returned home after a twelve-year absence. The sons only know their father from a faded photo, but with their mother's uneasy blessing, father and sons set out on a fishing vacation by boat, headed for a remote island. The father behaves mysteriously, making Vanya suspicious and defiant. What if he's a murderer? How do we even know he's our father? Growing ever more rebellious and belligerent, Vanya steals the man's knife. Escalating tensions precipitate a tragedy that has felt inevitable from the outset.
Ayah Vanya dan Andrey pulang setelah 12 tahun meninggalkan rumah. Kedua bersaudara selama ini hanya mengenal sang ayah dari foto yang sudah tua. Ayah dan anak kemudian pergi berlibur ke sebuah pulau terpencil. Sikap ayah yang pendiam namun kasar mengusik Vanya. Bagaimana jika ia seorang pembunuh? Bagaimana kita tahu bahwa ia benar-benar ayah kita? Rasa penasaran membangkitkan pemberontakan Vanya, hingga ia mencuri pisau sang “ayah”. Ketegangan yang memuncak akhirnya mengakibatkan sebuah tragedi.
Andrei Zvyagintsev finished the acting program at Novosibirsk School of Theater and later moved to Moscow, where in 1990 he graduated from the acting department at the State Institute of Theater Arts. In 2000, Andrei made his debut as a director of three short novels called “Busido”, “Obscure” and “Choice” for Ren-TV channel.
Nominee of Best Foreign Language Film, Golden Globes 2004; Best Film & Best First Film, Venice International Film Festival 2003.
________
Until the Violence Stops (World VDAY)
Abby Epstein/USA 2003 Documentary 73 minutes Color English
V-Day diadakan mengikuti kesuksesan dalam pementasan teater “Vagina Monolog” dengan tekad untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan segala usia. Film pertama Abby Epstein ini merekam imbas positif dari gerakan hari Vagina (V-Day) di lima komunitas internasional, sambil menyorot kekerasan rumah tangga yang masih dialami perempuan di berbagai belahan dunia. Atmosfir terasa mencekam menyaksikan para pemirsa perempuan mengangkat tangan untuk melaporkan penganiayaan di hampir setiap pementasan.
In February of 2000, Abby Epstein became the Associate Director of Eve Ensler's Obie-winning Off Broadway play, The Vagina Monologues, going on to direct subsequent productions in Canada and Mexico. Through her work on the play and as Artistic Director of V-Day∂s Worldwide Campaign, Epstein learned about Ensler's V-Day movement to end violence against women and girls. V-Day originated out of Ensler's conversations with women who approached her after early performances of The Vagina Monologues, to tell her of their own experiences of violence. Ensler began to use performances of the play to raise funds for organizations working to stop violence. Epstein assisted Ensler on the biggest of these benefit performances at Madison Square Garden and soon began to witness firsthand that V-Day was quickly transforming into a worldwide social and activist movement. Epstein approached Ensler about making a documentary about the global impact of the movement in motion. She proposed filming several international communities who were holding V-Day events to capture the transformative energy of this play-turned-social movement. Epstein and Ensler∂s vision was that the film itself would become an educational and fundraising tool to end violence against women.
Epstein has been producing and directing theater internationally for the past twelve years. Broadway productions include Rent (National Tour, Mexico City, Barcelona) Off-Broadway, The Vagina Monologues (National Tour, Toronto, Mexico City,) Platonically Incorrect (New York, Los Angeles.) Ms. Epstein has worked extensively in Los Angeles at the Improv, Groundlings and Odyssey Theaters as well as for Warner Brothers Television. She is the founding Artistic Director of Chicago's acclaimed Roadworks Theater Ensemble, which is now entering its twelfth season. Ms. Epstein is the recipient of four Joseph Jefferson Awards, an LA Weekly Award and a National Broadway Award Nomination for her theatrical direction. Until the Violence Stops is Ms. Epstein's first documentary and marks her debut as a feature film director. World Premiere at Sundance Film Festival 2004; Winner of top-honor of the Gold Audience Award, Vancouver Amnesty International Film Festival 2004.
___________
Whisky
Juan Pablo Rebella, Pablo Stoll/Uruguay/Argentine/Germany 2004 Drama 94 minutes Color Spanish (with English subtitles)
Jacobo maintains a strictly working relationship with her loyal assistant Martha in the gloomy little sock factory he owns. One day, his life is disrupted by an unexpected visit from his brother Herman. Jacobo suddenly asks Marta to pose as his wife during his brother's stay. She agrees and the three relative strangers try to overcome the awkward situation. Fun-loving Herman suggests a joint seaside trip. In this powerful drama about denial, Jacobo and Marta end up discovering more about themselves than they probably ever knew.
Jacobo, pemilik pabrik kaos kaki, memiliki hubungan kerja yang kaku dengan asistennya yang setia, Marta. Suatu hari, rutinitas Jacobo terganggu oleh kunjungan saudaranya, Herman. Secara mengejutkan ia meminta Marta berperan sebagai istri selama Herman menginap. Herman –pria yang memikat, mengusulkan mereka bertiga berlibur ke pantai. Dalam drama tentang penyangkalan ini, Jacobo dan Marta akhirnya lebih menyelami diri mereka masing-masing daripada yang telah mereka sadari selama ini.
Juan Pablo Rebella and Pablo Stoll were born in Uruguay in 1974. Their first film, 25 Watts, won two awards at Rotterdam in 2001. Their second film Whisky won the Jury Award at the Cannes Film Festival in 2004.
Winner of FIPRESCI Prize Un Certain Regard, Cannes Film Festival 2004. Best Screenplay & Best Actress, Thessaloniki International Film Festival 2004.
_________
Yasmin
Kenneth Glenaan/UK 2004 Drama 87 minutes Color English/Punjabi
Yasmin is about how to be Asian, Muslim and British in the 21st century. Outside, Yasmin (Archie Panjabi, Bend It Like Beckham) dresses and behaves like any young modern Westerner; at home she wears a veil, and even agrees to an arranged marriage to please her father. This keeps everyone happy until 9/11. Workmates ostracize Yasmin while the internment of her husband and radicalization of her brother spark an identity crisis. She fights for her husband’s release, and with new resolution begins to reevaluate her life.
Yasmin seorang wanita Pakistan muslim yang tinggal di Inggris. Siang hari Yasmin (Archie Panjabi, Bend It Like Beckham) berbusana dan bersikap seperti orang barat masa kini; di rumah ia memakai cadar. Ia bahkan mau dijodohkan demi keinginan bapaknya. Semua ini bukan masalah, hingga insiden 9/11 berlangsung. Ia diasingkan rekan sekantor, suaminya ditahan, dan saudaranya dianggap radikal. Di tengah krisis identitas, Yasmin mengupayakan pembebasan suaminya, dan dengan resolusi baru ia mengevaluasi ulang hidupnya.
Kenneth Glenaan has worked extensively in Scotland as an actor and director. Glenaan was a founding member of Calypso and an Associate Artist with Communicado Theatre Company, Glasgow. Winner of Audience Award for Best Film, Dinard British Film Festival 2004;Winner of Prize of the Ecumenical Jury, Locarno International Film Festival 2004.
Thursday, April 20, 2006
Bulan Film Dokumenter, Mei 2006
"Creative Treatment of Actuality"Kira-kira itulah persepsi John Gierson, pada tahun 1930-an tetang dokumenter. Sejarah panjangnya dimulai sebelum tahun 1900, tepatnya ketika teknologi sederhana gambar bergerak ditemukan. Dari mulai definisi sederhana untuk apapun yang bersifat nonfiksi, sampai perdebatan tentang objektivitas.
Jika berbicara tentang film dokumenter, orang seringkali berdebat panjang tentang untuk apa membuat dokumenter. Karena jika tujuannya merekam realitas seobjektif mungkin, sekarang ini pandangan positivistik tentang obejektivitas digugat banyak orang. Ketika seseorang melakukan kegiatan dokumentasi, sesungguhnya realitas yang direkam adalah realitas yang disusun berdasarkan world of view dan background orang yang melakukan aktifitas dokumentasi tersebut.
Saya teringat perdabatan panjang antara saya dan beberapa orang dalam tim penulis film dokumenter Anak Naga Beranak Naga *). Kami sepakat bahwa upaya-upaya pendokumentasian itu perlu dilakukan. Apa lagi ketika dokumentasi itu menyangkut hal yang menurut banyak orang telah terpinggirkan dan bisa saja dia punah sewaktu-waktu tanpa kita sadari. Perdebatan yang sangat fundamental waktu itu adalah menyangkut persoalan sudut pandang mana yang akan kita pakai untuk melihat kepentingan kita dalam membuat dokumentasi. Apakah kami waktu itu akan memakai kacamata seorang konservatoris yang sarat dengan muatan konservasi atau kah kami hanya melakukan pencatatan semata. Jika suatu obeject yang kami catat hiland musnah, kami tidak terlalu merasa bersalah karena setidaknya kami telah melakukan pencatatan itu. Tapi apakah memang seperti itu dilema yang muncul bagi dokumentator?
Memang bukan hal yang mudah untuk menentukan bingkai apa yang cocok untuk sebuah proses kehidupan yang telah berjalan dalam rentang waktu tertentu dan kemudian waktunya hampir habis lalu semuanya akan hilang atau berganti. Dokumentator seperti dikejar waktu, jika tidak sekarang kapan lagi. Tapi untuk menentukan titik pijak pada saat ini untuk kemudian ditarik kebelakang, lalu menempatkan objek dokumenter kita dalam konteks yang lebih luas, juga bukan persoalan mudah. Jika dokumenter kemudian adalah persoalan bagaimana kekinian itu diperlakukan, tentunya seorang dokumentator adalah orang yang selayaknya memahami konteks persoalan dalam skala mikro sampai skala makro.
Seorang teman pernah mengatakan pada saya suatu hari pendapatnya tentang sesuatu yang berada di ambang kepunahan. Dia bilang: "Jika sudah waktunya punah ya punah saja, mungkin dia memang memiliki keterbatasan sumber daya untuk bertahan hidup." Jika demikian adanya, saya kira pertanyaan yang harus dijawab oleh dokumentator ketika melakukan kegiatan dokumenter adalah bagaimana menempatkan saat ini ketika apa yang kita catat dalam aktivitas dokumenter adalah rentang proses yang begitu panjang yang sebagian besar telah terjadi di masa lalu. Menghadirkan kembali sesuatu yang telah lalu dan menyingkatnya dalam babakan waktu yang kita tentukan dalam durasi film dokumenter yang akan kita buat, seperti halnya membuat sebuah simulasi sejarah. Dan sejauh mana kita bisa memperlakukan kekinian dalam simulasi sejarah itu, saya kira pertanyaan itulah yang harus dijawab terlebih dahulu, sebelum sibuk berdebat dengan tehnik dan cara apa kita akan mencatat. (tarlen)
*) penulis juga co-produser dan script writer untuk film dokumenter Anak Naga Beranak Naga (www.anaknagaberanaknaga.info) tulisan ini juga menjadi pengantar program dokumenter konoki, yogjakarta.
Agenda klab nonton bulan Mei:
4 Mei
Dogtown and Z-Boys
(A documentary by Stacy Peralta)
11 Mei
"Che" The Last Hour
(A documentary by Romano Scavolli)
18 Mei
Naked States
(A documentary by Arlene Donnelly)
Friday, April 14, 2006
Bulan Film "Modern Asian Landscape", April 2006

Klab Nonton bulan April mencoba menyajikan film-film Asia saat ini. Mulai dari sutradara generasi Zhang Yimou sampai Eric Khoo. Realitas kehidupan masyarakan Asia moderen di Cina, Hongkong, Korea dan Singapura coba ditampilkan disini. Selamat menikmati Asia.
Jadwal Pemutaran:
Setiap Kamis, Pk. 15.00 - 18.00 Wib
6 April 2006
2046 Sutradara Wong Kar Wai
13 April 2006
Riding Alone for Thousand of Miles
Sutradara Zhang Yimou
20 April 2006
Old Boy Sutradara Chan Wook Park
27 April 2006
Be With Me Sutradara Eric Khoo
Tuesday, February 21, 2006
Bulan Film "Media dan Kebebasan Berekspresi"
..."this is not about sexual content, this is about free speech and hypocrisy."INSIDE DEEP THROAT
Pada pertengahan akhir abad ke-20, 8 orang ditangkap di Amerika Serikat. Mereka tidak melakukan kejahatan apapun, tidak pembunuhan, tidak penipuan, tidak korupsi atau apapun. Mereka ditangkap hanya karena mengekspos apa yang selama ini ditabukan di tengah masyarakat Amerika. 12 Juni 1972, film berjudul 'Deep Throat' ditayangkan di bioskop untuk pertama kalinya--yang segera disusul dengan banyak kontroversi. Dirayakan oleh kaum muda, dan ditentang habis-habisan oleh kaum tua, film ini melaju terus: mempopulerkan untuk pertama kalinya scene felatio (oral seks) diangkat di layar lebar. Dan itu satu-satunya 'kejahatan' yang dilakukan oleh ke 8 orang terpidana tersebut.
Film dokumenter sepanjang satu setengah jam ini, membahas seluruhnya mengenai film kontroversial ini. Mengetengahkan berbagai wawancara baik dari kalangan yang pro maupun yang kontra, dari mereka yang bergelut di bisnis media, psikolog, rohaniawan, termasuk juga tentu saja, para aktor dan mereka yang berada di balik layar pembuatan film 'Deep Throat'. Dilihat dari sudut pandang yang di angkat dalam film dokumenter ini, maka sesungguhnya, 'Deep Throat' bukanlah berbicara mengenai seks dan seluruh tabu yang menyelimutinya, ia berbicara tentang kebebasan untuk berekspresi dan kemunafikan masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh seorang perempuan tua audiens film 'Deep Throat' yang mengatakan:
"I iust saw it and I liked it. I wanted to see a dirty picture and that's what I saw. But I want the right to see that picture. I don't want somebody telling me that I can’t see a dirty picture."
THE PEOPLE VS LARRY FLINT
Sebagian dari kita yang bandel, pasti mengenal majalah erotis, Hustler. Dipublikasikan pertama kalinya pada dekade 1960-an, majalah ini menuai kontroversi di kalangan publik Amerika Serikat. Larry Flint sendiri adalah orang di balik media tersebut. Diperankan oleh Woody Harrelson, Larry Flint yang penuh kontroversi ini menjalani berbagai kontroversi tersebut, dari semenjak kritik yang dilancarkan oleh sesama praktisi media, hingga tekanan pihak pengadilan. Dalam film ini juga diungkapkan kehidupan personal Flint yang unik—apabila tidak dibilang sebagai sesuatu yang sekaligus menyingkapkan kemunafikan masyarakat modern.
Film drama yang diangkat dari kisah nyata ini, mungkin dapat menjadi gambaran apa yang akan terjadi di Indonesia apabila majalah Playboy Indonesia benar-benar jadi diterbitkan (terlepas apakah konten majalah tersebut sama persis dari versi aslinya ataukah merupakan versi yang 'lebih soft' semacam majalah Popular). Berhadapan dengan kelompok religius yang diback-up dengan segudang kemunafikan masyarakat yang bersembunyi di balik kedok kaidah agama, bukan tak mungkin apabila kisah ini terulang di sini, tapi dengan ending yang tidak selalu sama tentu saja. Tapi film ini memang gambaran tentang bagaimana media berjuang untuk mendapatkan haknya untuk menyuarakan apapun yang mereka rasa perlu untuk dipublikasikan.
QUILLS
Pada era Revolusi Perancis yang sangat mengguncang, di antara nama-nama terkenal seperti Robbespierre, Marrat dan Marie-Antoinette serta pisau guilotine yang menjadi populer setelahnya, tidak terlalu banyak dari kita yang juga mendengar nama Marquis de Sade. Tapi diakui atau tidak, dari namanyalah kata 'sadis' (sade-ist) berasal. Populer karena tingkah polahnya dalam menuliskan karya-karya erotis yang 'aneh', ia menjalani nyaris separuh hidupnya dalam penjara atau rumah sakit jiwa—bahkan hingga akhir hayatnya. Memang, ia juga dikenal sebagai seorang pro-republikan dengan tulisan-tulisan politisnya, tetapi di bandingkan dengan hal itu, ia lebih dikenal sebagai seorang bid'ah yang mempopulerkan sadisme seksual yang sebenarnya merefleksikan kondisi sosial politik dan kemunafikan moral masyarakat pada masanya.
Memfokuskan pada proses kreatif Sade dalam menyusun tulisan, film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Sade dalam rumah sakit jiwa ini, menyuguhkan Sade sebagai sosok yang eksentrik, dimana hasratnya untuk menulis tak mampu dibendung oleh apapun juga. Tidak oleh pemenjaraannya, pengasingannya, bahkan juga penyiksaan fisik yang dilakukan oleh penguasa. Seperti sekian banyak karya masterpiece dunia lainnya, sebuah karya, seamoral apapun isinya, hanya dapat diuji ketahanannya oleh waktu. Dan karya yang bermutu, adalah sebuah karya yang mampu merefleksikan kehidupan nyata di sekelilingnya. Dalam konteks ini, rasanya Sade layak menempati posisi tersebut. Toh tak akan pernah ada kata sadis apabila tak ada Marquis de Sade.
Pengantar dan text by Pam
Tuesday, January 31, 2006
Bulan Film Jerman, February 2006
Kerjasama Common Room dan Goethe institute Jakarta

Rabu, 1 Februari 2006
Do Fish Do It Pk. 13.00 - 15.00
Kroko Pk. 15.30 - 17.30
Kamis, 2 Februari 2006
Goodbye Lenin Pk. 13.00 - 15.00
Urban Guerillas Pk. 15.30 - 17.30
Jumat, 3 Februari 2006
Anansi Pk. 13.00 - 15.00
Gegen die wand (head on) Pk. 15.30 -17.30
Klab Nonton, Bulan FILM JERMAN

Setiap Kamis, Pk. 15.00 - 17.00
9 Februari 2006, Tin Drum
16 Februari 2006, Million Dollar Hotel
23 Februari 2006, The Edukators
ANANSI
Format: 35 mm/VHS-PAL, berwarna. Durasi: 80 menit. Tahun pembuatan: 2002. Produksi: Avista Film/Brainpool TV/Calypso. Filmproduktion/arte/BR. Sutradara: Fritz Baumann. Penulis skenario: Fritz Baumann. Bahasa: bahasa Inggris (tanpa teks). Genre: drama. Penata kamera: Arturo Smith. Editor: Christian Lonk. Musik: Roman Bunka. Pemain: George Quaye, Naomie Akinghole, Maynard Eziahi
Sinopsis:
Dari Ghana melintasi Maroko kemudian Spanyol, sekelompok anak muda Afrika datang ke Eropa. Seorang fotografer dan pacarnya dan dua pemuda lain terpikat oleh janji manis dan tipuan Sir Francis yang baru tiba dari Eropa. Mereka ingin mencari hidup yang lebih baik. Dalam mitologi Afrika Barat, Anansi berarti laba-laba. Sebuah konsep mistis mengenai strategi orang Afrika untuk bertahan hidup dalam kondisi terburuk sekalipun. Tokoh utama, Zaza, dimainkan oleh Geoerge Quaye, seorang aktor opera sabun Ghana yang sangat terkenal. Sir Francis -dimainkan oleh Maynard Eziashi, meraih Silver Bear pada Festival Film Berlin tahun 1992 untuk perannya di Mister Johnson. Sementara soundtrack film ini dibuat oleh Shaggy, seorang penyanyi terkenal Amerika dengan lagu Why Me Lord. Anansi sendiri merupakan road movie/film perjalanan mereka menghadapi halangan mereka untuk ke Eropa. Film ini sangat satir, kadang lucu, mengharukan dan sedih. Sutradara Fritz Baumann berhasil menggambarkan keadaan Afrika dan orang-orang Afrika yang mencoba bertahan di Eropa, negeri jauh yang selama ini turut menjajah mereka. Film ini juga sangat manusiawi dan jauh dari bias kolonial yang biasanya dilakukan sutradara yang memotret soal Afrika. Bagaimanapun, ending film ini sangat menyedihkan.
Catatan penghargaan:
Munich Film Festival 2002
Pemenang One Future Award Fritz Baumann
DO FISH DO IT? (FICKENDE FISCHE)
Format : 35 mm/VHS-PAL, berwarna. Durasi : 103 menit. Tahun pembuatan : 2002. Produksi : Icon Film/WDR/BR. Sutradara : Almut Getto. Penulis skenario : Almut Getto. Bahasa : Jerman dengan subtitle bahasa Inggris. Genre : drama, remaja. Penata kamera : Andreas Höfer. Editor : Ingo Ehrlich. Musik : Tom Deininger Pemain : Sophie Rogall, Tino Mewes, Annette Uhlen, Hans-Martin Stier, Ferdinant Dux, Angelika Milster, Jürgen Tonkel, Thomas Feist, Uwe Rohde.
Sinopsis:
Seorang anak muda berumur 16 tahun, Jan, mengidap AIDS setelah menerima transfusi darah. Penyakit ini membuatnya menjadi orang yang pesimis dan murung. Tetapi ia kemudian bertemu seorang gadis, Nina, yang kelak akan mengubah hidup dan sikapnya. Film ini menggambarkan kisah cinta pertama yang menyakitkan. Nina seorang gadis muda yang penuh energi dan ide-ide gila. Jan sebaliknya. Mereka bertemu lewat perantaraan dunia ikan dan mereka pun mengakhiri hidupnya bersama ikan-ikan. Dalam film ini, sutradara Almut Getto bercerita tentang problem-problem yang dihadapi keluarga, dan terutama keluarga yang memiliki anak-anak belia, seperti Jan dan Nina. Secara lebih spesifik, film ini
juga mengetengahkan persoalan yang selama ini jarang diekspos, yakni kehidupan seorang penderita AIDS.
Catatan penghargaan:
- German Film Awards 2003 Film Award in Gold Penulisan skenario dan produksi: Almut Getto Nominasi Film Award in Gold Pemeran utama (aktris): Sophie Rogall
- German Film Critics Association Awards 2003 Pemenang German Film Critics Award Penulisan skenario (Bestes Drehbuch) Almut Getto
- Max Ophüls Festival, 2002, Pemenang Prize of the Minister President of the State of Saarland Almut Getto Nominasi Max Ophüls Award Almut Getto
- Schwerin Art of Film Festival, 2002, Pemenang Audience Award Almut Getto Nominasi Flying Ox Almut Getto
GOODBYE LENIN!
Produksi : X-Filme Creative Pool, Westdeutcher. Rundfunk (WDR)/arte. Format : 35 mm, VHS PAL, berwarna. Panjang : 121 menit. Tahun pembuatan : 2003. Sutradara : Wolfgang Becker . Penulis skenario : Wolfgang Becker, Bernd Lichtenberg. Genre : drama. Bahasa : Jerman dengan teks bahasa Inggris. Kamera : Martin Kukula. Editor :Peter R. Adam. Musik : Yann Tiersen. Pemeran : Daniel Brühl, Katrin Saß, Chulpan Khamatova, dll.
Sinopsis:
Berlin pada musim gugur 1989. Ibu Alex mengalami koma setelah terjatuh dalam sebuah demonstrasi. Ibu Alex terbangun dari komanya delapan bulan kemudian, pada tahun 1990. Selama ia mengalami koma, banyak kejadian berlangsung: tembok Berlin runtuh, bersatunya Jerman Barat dan Timur, serta terjadinya perubahan besar-besaran, terutama di Berlin. Dokternya mengingatkan Alex dan adiknya yang telah punya anak, untuk berhati-hati dengan kesehatan
ibunya. Ibunya tidak boleh mengalami gundangan sedikit pun. Karena alas an ini, Alex kemudian mengkonstruksi sebuah dunia yang dibayangkan ibunya. Alex berpura-pura bahwa keadaan masih seperti ketika ibunya sehat. Jerman Timur masih ada. Partai sosialis masih berkuasa. Dan tembok Berlin masih berdiri tegak. Alex mengerahkan sahabat-sahabatnya untuk membuat berita tentang partai sosialis. Juga sahabat-sahabat ibunya serta anak-anak. Tetapi suatu hari, dunia konstruksi Alex ini akhirnya harus berakhir. Ibunya melihat kondisi telah berubah. Banner Coca Cola di mana-mana, patung Lenin dan Stalin dipindahkan, pengaruh Barat tak terbendung lagi. Film ini merupakan salah satu film paling sukses di Jerman. Selain memotret realitas Jerman pasca reunifikasi, film ini sangat berhasil memainkan ironi, humor dan realitas pedih pemisahan Jerman Barat dan Timur. Film ini berhasil memotret orang-orang yang harus menghadapi perubahan mendadak. Dalam menangangkat persoalan yang sedikit sensitive ini,
sutradara Wolfgang Becker juga tidak bias dalam mengangkat persoalan ideologi, apalagi moral. Humor yang dimainkan pun sangat mengena dan cerdas. Tak heran film ini memperoleh banyak penghargaan. Sebuah film yang wajib ditonton!
Catatan penghargaan:
- Argentinean Film Critics Association Awards 2005 Nominasi Silver Condor Film berbahasa asing terbaik (Mejor Película Extranjera en Idioma no Español) Wolfgang Becker Jerman
- BAFTA Awards 2004 Nominasi BAFTA Film Award Film berbahasa non Inggris terbaik Stefan Arndt Wolfgang Becker
- Bambi Awards 2003 Pemenang Bambi Film Nasional Daniel Brühl, Katrin Saß, Florian Lukas
- Bavarian Film Awards 2004 Pemenang Audience Award Wolfgang Becker
- Berlin International Film Festival 2003 Pemenang Blue Angel Wolfgang Becker Nominasi Golden Berlin Bear Wolfgang Becker
- Bodil Awards 2004 Pemenang Bodil Film Non-America terbaik (Bedste ikke-amerikanske film) Wolfgang Becker
- César Awards, France 2004 Pemenang César Film Uni Eropa terbaik (Meilleur film de l'Union Européenne) Wolfgang Becker Jerman
- David di Donatello Awards 2004 Nominasi David Film Eropa terbaik (Miglior Film dell'Unione Europea) Wolfgang Becker
- Directors Guild of Great Britain 2004 Pemenang DGGB Award Penyutradaraan terbaik untuk film berbahasa asing (Outstanding Directorial Achievement in Foreign Language Film) Wolfgang Becker
- Euregio Filmball 2003 Nominasi Euregio Film Award Film Jerman terbaik di Cinetower, Alsdorf (People's Award) Wolfgang Becker
- European Film Awards 2003 Pemenang Audience Award Aktor Terbaik Daniel Brühl Aktris terbaik Katrin Saß Sutradara terbaik Wolfgang Becker European Film Award Aktor terbaik Daniel Brühl Film Terbaik Stefan Arndt Skenario terbaik Bernd Lichtenberg Nominasi European Film AwardAktris terbaik Katrin Saß Sutradara terbaik Wolfgang Becker
- German Camera Award 2004 Nominasi German Camera Award Film Fiksi panjang terbaik(Spielfilm) Martin Kukula
- German Film Awards 2003 Pemenang Audience Award Film Terbaik Jerman 2003 (German Film of the Year) Film Award in Gold Film fiksi panjang terbaik (Outstanding Feature Film) Aktor terbaik (Outstanding Individual Achievement: Actor) Daniel Brühl Penyutradaraan terbaik (Outstanding Individual Achievement: Direction) Wolfgang Becker Editing terbaik (Outstanding Individual Achievement: Editing) Peter R. Adam Musik terbaik (Outstanding Individual Achievement: Music) Yann Tiersen Desain produksi terbaik (Outstanding Individual Achievement: Production Design) Lothar Holler Aktor pembantu terbaik (Outstanding Individual Achievement: Supporting Actor) Florian Lukas Nominasi Film Award in Gold Aktris terbaik (Outstanding Individual Achievement: Actress) Katrin Saß Aktris pembantu terbaik (Outstanding Individual Achievement: Supporting Actress) Maria Simon
- German Screenplay Award 2002 Pemenang Screenplay Award Wolfgang Becker Bernd Lichtenberg
- Golden Globes, USA 2004 Nominasi Golden Globe Film berbahasa asing terbaik Jerman
- Golden Trailer Awards 2005 Nominasi Golden Trailer Film independen asing terbaik (Best Foreign Independent)
- Goya Awards 2004 Pemenang Goya Film Eropa terbaik (Mejor Película Europea) Wolfgang Becker Jerman
- Guild of German Art House Cinemas 2003 Pemenang Guild Film Award - Gold Film Jerman terbaik (Deutscher Film) Wolfgang Becker
- Guldbagge Awards 2004 Nominasi Guldbagge Film berbahasa asing terbaik (Bästa utländska film) Jerman
- Italian National Syndicate of Film Journalists 2004 Nominasi Silver Ribbon Penyutradaraan terbaik - Film asing (Regista del Miglior Film Straniero) Wolfgang Becker
- London Critics Circle Film Awards 2004 Pemenang ALFS Award Film berbahasa asing terbaik tahun 2004- Jerman.
- Robert Festival 2004 Pemenang Robert Film Non -Amerika terbaik (Årets ikke-amerikanske film) Wolfgang Becker
- Sant Jordi Awards 2004 Pemenang Audience Award Film asing terbaik (Mejor Película Extranjera) Wolfgang Becker
- Turia Awards 2004 Pemenang Audience Award Film asing terbaik Wolfgang Becker
- U.S. Comedy Arts Festival 2004 Pemenang Film Discovery Jury Award Film berbahasa asing terbaik
- Valladolid International Film Festival 2003 Pemenang Jury Special Priz Wolfgang Becker
- Nominasi Golden Spike Wolfgang Becker
HEAD ON (GEGEN DIE WAND)
Produksi : Wüste-NDR/arte-Corazon. Format : 35 mm, VHS PAL, berwarna, 121 menit. Tahun pembuatan : 2004. Sutradara : Fatih Akin. Penulis skenario : Fatih Akin. Genre : drama. Bahasa : Jerman dengan teks bahasa Inggris. Kamera : Rainer Klausmann. Editor :Andrew Bird. Musik : Klaus Maeck. Pemeran : Birol Unel, Siebel Kekilli, Catrin. Striebeck, Güven Kirac
Sinopsis:
Cahit adalah seorang laki-laki keturunan Turki yang depresi. Ia tinggal di Hamburg. Di sebuah klinik, setelah ia hampir bunuh diri, Cahit bertemu seorang perempuan Jerman-Turki yang sangat cantik dan masih muda, Sibel. Sibel mengajak Cahit menikah karena ia ingin bebas dari belengggu keluarganya yang konservatif. Meski mula-mula menolak, Cahit akhirnya mau juga menikah pura-pura dengan Sibel. Mereka hidup di apartemen Cahit sebagai dua teman serumah, tetapi Sibel menikmati kehidupan bebasnya sendiri. Ia sekarang telah terlepas dari belenggu keluarga.Sementara Cahit masih dalam situasi yang sangat
rentan. Lama-kelamaan timbul cinta di antara mereka berdua. Hubungan kedua suami-istri pura-pura itu pun menjadi sangat kompleks. Akibat pelecehan yang dilakukan seorang laki-laki pada Sibel, Cahit masuk penjara. Sibel yang merasa bersalah, kemudian pergi ke rumah saudaranya di Istambul. Beberapa tahun kemudian, Cahit datang ke Istambul dan mencari Sibel, tetapi Sibel telah memiliki kehidupannya sendiri. Kisah ini diceritakan secara linier dengan iringan sebuah ensambel musik Turki di tepian Selat Bosporus. Film ini mendapat banyak penghargaan dan sorotan khusus karena menceritakan kehidupan imigran-imigranTurki di Jerman secara ironik dan riil. Dalam beberapa hal, kisah yang diangkat merupakan lambang dari kebingungan dan revolusi generasi imigran yang hidup di persimpangan kebudayaan mereka: budaya Jerman yang lebih liberal dan Turki yang cenderung konservatif. Film ini mengangkat kegelisahan generasi-generasi kontemporer yang harus berhadapan dengan kesunyian dan keterasingan, sebuah kehidupan tanpa cinta yang menyiksa. Film ini berangkat dari skenario yang rapi dan tersusun baik. Sinematografi pun digarap dengan cukup serius. Para aktor bermain cukup istimewa, terutama Birol Ünel dan Sibel Kekilli. Tetapi kekuatan film ini memanglah cerita yang luar biasa dan musik yang
mempesona. Penata musik Klaus Maeck menggabungkan musik tradisional Turki, punk yang memberontak dan lagu-lagu Depeche Mode yang dalam. Sebuah kombinasi yang menjadikan film ini sebagai salah satu film Turki terbaik sepanjang masa.
Catatan penghargaan :
- Berlin International Film Festival 2004 pemenang FIPRESCI Prize Kompetisi Fatih Akin Golden Berlin Bear Fatih Akin
- Bodil Awards 2005 Nominasi Bodil Film Non-Amerika Terbaik (Bedste ikke-amerikanske film) Fatih Akin
- Brothers Manaki International Film Festival 2004 Pemenang Golden Camera 300 Rainer Klausmann
- David di Donatello Awards 2005 Nominasi David Film Eropa terbaik (Miglior Film dell'Unione Europea) Fatih Akin
- European Film Awards 2004 Pemenang Audience Award Sutradara terbaik (Best Director) Fatih Akin European Film Award Film terbaik Stefan Schubert (producer) Ralph Schwingel (producer) Nominasi Audience Award Aktor terbaik Birol Ünel European Film Award Aktor terbaik Birol Ünel Aktris terbaik Sibel Kekilli Sutradara terbaik Fatih Akin Skenario terbaik Fatih Akin
- Film+ 2004 Pemenang Editing Award Andrew Bird
- German Camera Award 2004 Pemenang German Camera Award Film fiksi panjang terbaik (Spielfilm) Rainer Klausmann Nominasi German Camera Award - Outstanding Editing Film fiksi panjang terbaik (Spielfilm) Andrew Bird
- German Film Awards 2004 Pemenang Film Award in Gold Film fiksi panjang terbaik (Outstanding Feature Film) Stefan Schubert Ralph Schwingel Aktor dengan penampilan terbaik (Outstanding Individual Achievement: Actor) Birol Ünel Aktris dengan penampilan terbaik (Outstanding Individual Achievement: Actress) Sibel Kekilli Sinematografi terbaik (Outstanding Individual Achievement: Cinematography) Rainer Klausmann Penyutradaraan terbaik (Outstanding Individual Achievement: Direction) Fatih Akin
- Goya Awards 2005 Pemenang Goya Best European Film (Mejor Película Europea) Fatih Akin Germany.
- Guild of German Art House Cinemas 2004 Pemenang Guild Film Award - Gold German Film (Deutscher Film) Fatih Akin
- Italian National Syndicate of Film Journalists 2005 Nominasi Silver Ribbon Sutradara terbaik - Film asing (Regista del Miglior Film Straniero) Fatih Akin
- Mexico City International Contemporary Film Festival 2005 Pemenang La Pieza Sutradara dengan penceritaan terbaik (Best Narrative Feature Director) Fatih Akin
- New Faces Awards, Germany 2004 Pemenang New Faces Award Aktris Sibel Kekilli
- Nuremberg Film Festival "Turkey-Germany" 2004 Pemenang Aktor terbaik (Best Actor) Birol Ünel Aktris terbaik (Best Actress) Sibel Kekilli
- Oslo Films from the South Festival 2004 Pemenang Films from the South Award Fatih Akin
- Ourense Independent Film Festival 2004 Pemenang Calpúrnia Grand Prize Fatih Akin
- Robert Festival 2005 Nominasi Robert Film Non-Amerika terbaik (Årets ikke-amerikanske film) Fatih Akin
- Santa Barbara International Film Festival 2005 Pemenang Special Jury Award Penampilan aktris terbaik (Best Performance by an Actress in an International Film) Sibel Kekilli
Produksi : Luna. Format : 35 mm, VHS PAL, berwarna, 92 menit. Tahun pembuatan : 2003. Sutradara : Sylke Enders. Penulis skenario : Sylke Enders. Genre : drama. Bahasa : Jerman dengan teks bahasa Inggris. Kamera : Matthias Schellenberg. Editor :Frank Brummundt. Musik : Robert Philipp. Pemeran : Franziska Jünger, Alexander Lange, Hinnerk. Schönemann, dan Danilo Bauer.
Sinopsis:
Julia, seorang gadis berusia 16 tahun, menyebut dirinya Kroko. Ia tergabung dalam sebuah gang anak muda di Berlin-Wedding. Ia tampak dingin dan keren di antara teman-temannya. Ia hidup dengan seorang ibu dan adiknya, Cora, yang masih kecil. Julia sering membuat masalah dengan ibunya. Julia juga suka mencuri di supermarket. Pada suatu hari, ia menyetir mobil temannya dan mengalami kecelakaan. Ia menabrak seseorang. Sebagai hukumannya, ia harus bekerja di panti sosial, tempat orang-orang tunagrahita tinggal. Hukuman itu merupakan hal yang berat bagi Kroko yang cuek dan dingin. Pada hari-hari pertama di panti sosial, ia sudah membuat masalah dengan para penghuni. Ia memberikan alkohol kepada Thomas yang sensitif dan lumpuh. Tetapi lama-kelamaan sikap Julia a.k.a Kroko ini berubah. Hal ini disebabkan teman-teman gangnya ternyata tidak mau mengerti dan membantu persoalan yang menimpanya. Pacarnya pun mulai bosan dengan sikap Kroko yang dingin dan arogan. Julia pelan-pelan mulai membuka diri dengan kehidupan teman-teman tunagrahitanya. Ia belajar memahami kehidupan orang-orang difable itu. Film ini cukup bagus dan tidak mendramatisir. Secara sederhana, film ini menggambarkan persoalan yang dialami anak-anak muda perkotaan yang terasing dan miskin. Mereka sangat agresif, tanpa masa depan, tanpa keluarga lengkap, pengangguran, dan cuek. Plot film ini tidak terlalu rumit tetapi juga tidak mudah ditebak. Sang aktris bermain cukup bagus, meski ia bukan professional. Film ini juga berhasil menggambarkan perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang anak muda yang agresif bersentuhan dengan persoalan-persoalan tentang difabilitas dan orang-orang marginal lainnya.
Catatan penghargaan:
- European Film Awards 2004 Nominasi European Discovery of the Years Sylke Enders
- First Steps Awards, Germany 2003 Nominasi First Steps Award Film fiksi panjang terbaik- Panjang di atas 60 menit (Abendfüllende Spielfilme) Sylke Enders Deutsche Film- und Fernsehakademie Berlin.
- German Film Awards 2004 Pemenang Film Award in Silver Film fiksi panjang terbaik (Outstanding Feature Film) Gudrun Ruzicková-Steiner Nominasi Film Award in Gold Outstanding Feature Film Gudrun Ruzicková-Steiner Aktor pendukung terbaik (Outstanding Individual Achievement: Supporting Actor) Hinnerk Schönemann
URBAN GUERILLAS
Produksi : 36 Pictures Erhan Emre, Neco Celi. Format : 35 mm (diambil dengan miniDV), VHS PAL, berwarna, 83 menit. Tahun pembuatan : 2003 Sutradara : Neco Celik. Penulis scenario : Neco Celik. Genre : cult film (urban/hiphop/street culture). Bahasa : Jerman dengan teks bahasa Inggris. Kamera : Hannes Hubach. Editor :Michael Baudi. Musik : Enis Rotthoff. Pemeran : Felix Kasper Kalypso, Ilke Üner, Idil Üner,. Neco Celik, Ingeborg Westphal, Serpil Turhan, Gülsah. Erol, Badegul Sönmez
Sinopsis:
Sebuah film tentang kehidupan jalanan Berlin. Cocok untuk pecinta hiphop, grafitti, dan street culture atau subkultur lainnya. Film ini bercerita tentang berbagai orang yang hidup di jalanan: para seniman grafiti, grup hip hop, dan dua orang yang ingin mendirikan record label mereka sendiri. Remaja-remaja ini memiliki pilihan dan alasan mengapa mereka memilih hip hop atau grafiti. Dan mereka pun punya persoalan di antara mereka sendiri: persoalan keluarga, teman sebaya, cinta, dan konflik antar gang. Mereka membentuk subkultur, sebuah kultur jalanan, sebuah perlawanan menghadapi kemapanan. Film ini menggunakan frame beberapa tokoh. Danger dan Kaspar tidak diakui sebagai anggota gang graffiti. Mereka kemudian bertekad untuk membuat grafiti untuk menghormati teman mereka yang telah mati. Kaspar selalu menganggap Danger adalah laki-laki, padahal ia perempuan. Dengan bantuan neneknya, Danger akhirnya mengakui bahwa dirinya perempuan. B-Boy Buelent menyukai breakdances, tetapi tunangannya tidak menyukai hobi B-Boy. Ia ingin segera menikah tetapi banyak kendala yang dihadapi, diantaranya hobi break dance B-Boy. Sementara, Ozan dan Madlen hendak mendirikan record label mereka bernama Toon Records. Ozan berjanji untuk mengajak para rapper untuk bergabung di label mereka. Ia kemudian mengadakan pesta yang memungkinkan para rapper dan anak-anak grafitti serta breakdancers berkumpul. Film ini diiringi musik-musik yang cukup menarik.
Tidak ada catatan penghargaan.



