Tuesday, February 21, 2006

Bulan Film "Media dan Kebebasan Berekspresi"

..."this is not about sexual content, this is about free speech and hypocrisy."

INSIDE DEEP THROAT

Pada pertengahan akhir abad ke-20, 8 orang ditangkap di Amerika Serikat. Mereka tidak melakukan kejahatan apapun, tidak pembunuhan, tidak penipuan, tidak korupsi atau apapun. Mereka ditangkap hanya karena mengekspos apa yang selama ini ditabukan di tengah masyarakat Amerika. 12 Juni 1972, film berjudul 'Deep Throat' ditayangkan di bioskop untuk pertama kalinya--yang segera disusul dengan banyak kontroversi. Dirayakan oleh kaum muda, dan ditentang habis-habisan oleh kaum tua, film ini melaju terus: mempopulerkan untuk pertama kalinya scene felatio (oral seks) diangkat di layar lebar. Dan itu satu-satunya 'kejahatan' yang dilakukan oleh ke 8 orang terpidana tersebut.

Film dokumenter sepanjang satu setengah jam ini, membahas seluruhnya mengenai film kontroversial ini. Mengetengahkan berbagai wawancara baik dari kalangan yang pro maupun yang kontra, dari mereka yang bergelut di bisnis media, psikolog, rohaniawan, termasuk juga tentu saja, para aktor dan mereka yang berada di balik layar pembuatan film 'Deep Throat'. Dilihat dari sudut pandang yang di angkat dalam film dokumenter ini, maka sesungguhnya, 'Deep Throat' bukanlah berbicara mengenai seks dan seluruh tabu yang menyelimutinya, ia berbicara tentang kebebasan untuk berekspresi dan kemunafikan masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh seorang perempuan tua audiens film 'Deep Throat' yang mengatakan:

"I iust saw it and I liked it. I wanted to see a dirty picture and that's what I saw. But I want the right to see that picture. I don't want somebody telling me that I can’t see a dirty picture."


THE PEOPLE VS LARRY FLINT

Sebagian dari kita yang bandel, pasti mengenal majalah erotis, Hustler. Dipublikasikan pertama kalinya pada dekade 1960-an, majalah ini menuai kontroversi di kalangan publik Amerika Serikat. Larry Flint sendiri adalah orang di balik media tersebut. Diperankan oleh Woody Harrelson, Larry Flint yang penuh kontroversi ini menjalani berbagai kontroversi tersebut, dari semenjak kritik yang dilancarkan oleh sesama praktisi media, hingga tekanan pihak pengadilan. Dalam film ini juga diungkapkan kehidupan personal Flint yang unik—apabila tidak dibilang sebagai sesuatu yang sekaligus menyingkapkan kemunafikan masyarakat modern.

Film drama yang diangkat dari kisah nyata ini, mungkin dapat menjadi gambaran apa yang akan terjadi di Indonesia apabila majalah Playboy Indonesia benar-benar jadi diterbitkan (terlepas apakah konten majalah tersebut sama persis dari versi aslinya ataukah merupakan versi yang 'lebih soft' semacam majalah Popular). Berhadapan dengan kelompok religius yang diback-up dengan segudang kemunafikan masyarakat yang bersembunyi di balik kedok kaidah agama, bukan tak mungkin apabila kisah ini terulang di sini, tapi dengan ending yang tidak selalu sama tentu saja. Tapi film ini memang gambaran tentang bagaimana media berjuang untuk mendapatkan haknya untuk menyuarakan apapun yang mereka rasa perlu untuk dipublikasikan.


QUILLS

Pada era Revolusi Perancis yang sangat mengguncang, di antara nama-nama terkenal seperti Robbespierre, Marrat dan Marie-Antoinette serta pisau guilotine yang menjadi populer setelahnya, tidak terlalu banyak dari kita yang juga mendengar nama Marquis de Sade. Tapi diakui atau tidak, dari namanyalah kata 'sadis' (sade-ist) berasal. Populer karena tingkah polahnya dalam menuliskan karya-karya erotis yang 'aneh', ia menjalani nyaris separuh hidupnya dalam penjara atau rumah sakit jiwa—bahkan hingga akhir hayatnya. Memang, ia juga dikenal sebagai seorang pro-republikan dengan tulisan-tulisan politisnya, tetapi di bandingkan dengan hal itu, ia lebih dikenal sebagai seorang bid'ah yang mempopulerkan sadisme seksual yang sebenarnya merefleksikan kondisi sosial politik dan kemunafikan moral masyarakat pada masanya.

Memfokuskan pada proses kreatif Sade dalam menyusun tulisan, film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Sade dalam rumah sakit jiwa ini, menyuguhkan Sade sebagai sosok yang eksentrik, dimana hasratnya untuk menulis tak mampu dibendung oleh apapun juga. Tidak oleh pemenjaraannya, pengasingannya, bahkan juga penyiksaan fisik yang dilakukan oleh penguasa. Seperti sekian banyak karya masterpiece dunia lainnya, sebuah karya, seamoral apapun isinya, hanya dapat diuji ketahanannya oleh waktu. Dan karya yang bermutu, adalah sebuah karya yang mampu merefleksikan kehidupan nyata di sekelilingnya. Dalam konteks ini, rasanya Sade layak menempati posisi tersebut. Toh tak akan pernah ada kata sadis apabila tak ada Marquis de Sade.

Pengantar dan text by Pam

No comments: