Wednesday, June 07, 2006

Spesial Screening on June: Ben

"Apa mungkin gue bisa ngubah keadaan?"

Sebuah film garapan Aisyah Amirah.
Reza Anindita Ramadhan "Ben" Ririn gentawati, Rizal Azhari Dzulfikar, Dedi Kurniadi, Erna Diah Utami, Argan Hasta Nugaraha, Besti Rahayu Pratama.
Screenplay: Iqbal Alfajri. Casting Coordinator: Satisfia Ratna Andini, Ratna Andini. Property: Yolanda Istiqomah. Camera: Destri Tsuryya Istiqamah, Satria Adiyasa. Music Director: YD Nafis. Assistand Director: Alif Ulfa Afifah. Unit Manager: Ridla An-Nuur Setiawan, Desti Fatin, Fauziyah. Editor: Aisyah Amirah.

Proudly Present Special Screening,
8 Juni 2006,
Pk. 15:00 - 18:00

Ben bercerita tentang seorang remaja SMA idealis bernama Ben yang ingin membantu adiknya membayar uang SPP. Ben terpaksa membongkar ruang TU sekolah untuk mendapatkan bukti korupsi kepseknya, yang kemudian dijual ke wartawan yang menjanjikan sejumlah uang. Namun rencana Ben tidak berjalan mulus karena begitu banyak masalah yang harus dia hadapi hari itu.

Kalau Pelajar Membuat Film
Review ini dikutip dari blognya Riki (thanks Riki)

Membayar SPP dengan cara membuktikan korupsi kepala sekolah? Bisakah hal itu dilakukan? Sepertinya aneh dan tidak ada hubungannya. Tapi, itulah yang coba dilakukan oleh Ben dalam sebuah film berjudul namanya : Ben.

Dikisahkan, Benny Hariman atau Ben (diperankan oleh Reza Anindita Ramadhan) bangun pagi dengan sejumlah masalah. Dia harus mengganti kaca kelas yang dipecahkannya kemarin gara-gara emosi mendengar kabar korupsi kepala sekolahnya. Ia juga harus mendengar ibunya kembali bertengkar dengan ayahnya yang kena PHK. Dan puncaknya ketika adiknya, Tari (Ria Evrin Tanjung), bercerita kalau harus melunasi SPP-nya besok agar tidak dikeluarkan dari sekolah.

Ben pun kebingungan mencari pinjaman uang. Sebuah ide gila diberikan oleh Rio (Mohammad Irkham Y), sahabat lamanya yang kebetulan bertemu lagi. Ternyata kebetulan Rio kenal dengan wartawan yang memberitakan kasus korupsi kepala sekolah Ben. Dan akhirnya, Ben dijanjikan imbalan apabila berhasil mendapatkan bukti dari korupsi itu.

Dan cerita pun mengalir mengisahkan usaha Ben mencari bukti-bukti di sekolahnya. Tidak mudah, karena sebagian teman-teman sekolahnya ada di sana. Ada yang sedang bermain basket, berlatih teater, belajar fisika, dan rapat di mushola. Ditambah lagi adanya persinggungan dengan geng sekolah saingan yang dipimpin Adon (Rizal Azhari Dzulfikar).
__________

Hal yang paling istimewa dari film yang telah diluncurkan pada bulan Oktober 2005 di Art Cinema, Studio 21, Taman Ismail Marzuki Jakarta ini adalah hampir semua pemain dan krunya masih berstatus pelajar SMA. Pemain yang bukan pelajar hanyalah tokoh Mang Aep (Darmin), penjaga sekolah Ben. Sementara kru yang bukan pelajar ialah Iqbal Alfajri (penulis skenario serta editor) dan YD. Nafis (penata suara). Sedangkan kru lainnya seperti Aisyah Amirah (sutradara), Destri Tsurayya serta Satria Adiyasa (kamera), Yolanda Istiqomah (properti), Alif Ulfa Afifah (asisten sutradara), Ridla An-Nuur (manajer produksi), dan lain-lain, adalah pelajar SMA.

Dan hasilnya tidaklah mengecewakan. Dari segi akting, Reza berhasil menghidupkan tokoh Ben yang idealis tapi tidak punya banyak teman karena sering nyolot (sinis). Rizal yang memerankan Adon juga berperan baik untuk menciptakan ketegangan dalam film. Dengan penambahan jam terbang serta latihan terus-menerus, mereka berdua dan juga para pemain lainnya semoga dapat menjadi aktor-aktor yang berkualitas. Tentu masih ada kecanggungan pada penampilan dalam film ini, karena ini memang merupakan debut sebagai aktor bagi kebanyakan dari para pemainnya.

Ini berbeda dengan para krunya. Kru dari Forum Filmmaker Pelajar Bandung (F2PB) ini sebagian besar telah aktif membuat film pendek sejak mereka masih kelas 1 SMP dengan mentor dari Salman Filmmaker Club di Masjid Salman ITB. Mereka juga tercatat pernah mengikuti festival-festival film independen seperti Festival Film Independen Indonesia (FFII) SCTV, Festival Film Video Independen (FFVI) Konfiden, Jiffest Travelling, dan Festival Film Pendek Bandung.

Selain giat mengadakan workshop produksi film untuk pelajar, mereka juga telah menghasilkan VCD Pembelajaran Produksi Film Pendek lengkap dengan buku panduannya. Ben adalah film panjang independen pertama mereka.

Untuk menyeleksi pemain dalam film Ben, mereka mengadakan casting yang diikuti oleh 80-an pelajar di Bandung. Seluruh proses pembuatan film ini terdokumentasi dengan baik, dan dapat disaksikan dalam VCD behind the scene-nya. Tentunya ini akan bermanfaat bagi penonton yang juga berminat untuk membuat film ataupun sekadar ingin tahu.

Sayangnya, dalam film ini juga terdapat beberapa kekurangan yang cukup terasa. Salah satunya adalah adanya faktor kebetulan yang justru menjadi kejadian kunci. Misalnya saat Ben kebetulan bertemu dengan Rio, dan Rio kebetulan kenal dengan wartawan yang memberitakan kasus korupsi kepala sekolah Ben.

Kekurangan lainnya yaitu terlalu banyaknya pesan moral tambahan di samping pesan utamanya. Pesan tambahan itu terutama dibebankan pada tokoh Ben, sehingga kata-kata hati (narasi) Ben terasa memberatkan film. Pesan-pesan tambahan lainnya juga membuat beberapa adegan terasa melambatkan film. Untungnya ini tidak sampai mengaburkan pesan utamanya.

Bravo filmmaker muda Indonesia!

Tuesday, June 06, 2006

Bulan Film "Life as Ussual" Juni 2006


ME AND YOU AND EVERYONE WE KNOW
15 Juni 2006, Pk. 15:00

Sutradara Miranda July.
Menang di Cannes 2005, Sundace 2005, Philadelphia 2005, San Francisco 2005, Los Angeles 2005. Bercerita tentang Richard (John Hawkes) sales toko sepatu. Berpisah dengan istrinya dan bergantian mengurus dua orang anak laki-lakinya. Sampai Richard bertemu dengan Cristine (Miranda July) saat ia bekerja. Baik Richard maupun Cristine sesungguhnya memiliki keterarikan pada masing-masing. Namun tidak mudah bagi mereka untuk mengungkapkan perasaannya. Menarik melihat karakter dan hubungan antar tokoh-tokohnya. Bagaimana masing-masing karakter membangun dunianya masing-masing dan beririsan satu sama lain dengan cara yang tak terduga. Saya pribadi suka banget bagaimana masing-masing perasaan kesendirian tokoh-tokohnya di gambarkan. Miranda July tak terjebak pada penggambaran klise tentang perasaan sendiri yang mellow dan melankoli. Dia menggambarkannya dengan begitu subtil tanpa banyak kata-kata. Eksperesi yang mungkin saya pun melakukan hal yang sama ketika mengalami perasaan seperti itu. Saya sangat suka dua adegan terakhir. Saat Cristine memeluk Richard dari belakang, ketika Richard sedang memperhatikan foto burung yang dia pasang di dahan pohon depan rumahnya, saya merasakan mereka seperti dua orang yang selama ini tak dimengerti oleh sekelilingnya, kemudian bertemu dan tanpa harus bercerita banyak. Hanya dengan memeluknya, mereka bisa saling bercerita banyak hal, bertukar perasaan dan memahami satu sama lain. Juga adegan ketika anak kedua Richard mencari tahu suara apakah yang selama ini dia dengar setiap subuh. Keren. Saya suka banget film ini. Bintang empat dari saya.

PALINDROMES
22 Juni 2006, Pk.15:00

Sutradara: Todd Solondz
Film ini membuat saya terkesima dengan pendekatan visual yang dilakukan Todd untuk menggambarkan perubahan karakter tokoh utamanya Aviva. Bagi saya, Todd berhasil menggambarkan 'Palindromes' dengan sangat baik. Seperti sebuah nama yang mau kau bulak balik sedemikian rupa, tetap saja sama ga berubah. Bagi penggemar film-film dengan pendekatan cerita 'menyusun puzzle', film ini mungkin tidak seintens Amores Perros, tapi sensasi sureal dari kepingan-kepingan hidup yang seringkali terasa seperti mimpi, tergambar dengan sangat baik di sini. Dari segi cerita, Palindromes, menawarkan berbagai kemungkinan sekaligus kritik atas hipokrasi agama ketika berhadapan dengan persoalan moral dan kemanusiaan.
Mark Wiener: People always end up the way they started out. No one ever changes. They think they do but they don't. If you're the depressed type now that's the way you'll always be. If you're the mindless happy type now, that's the way you'll be when you grow up. You might lose some weight, your face may clear up, get a body tan, breast enlargement, a sex change, it makes no difference. Essentially, from in front, from behind. Whether you're 13 or 50, you will always be the same.
'Mark' Aviva Victor: Are you the same?
Mark Wiener: Yeah.
'Mark' Aviva Victor: Are you glad you're the same?
Mark Wiener: It doesn't matter if I'm glad. There's no freewill. I mean, I have no choice but to chose what I choose, to do as I do, to live as I live. Ultimately, we're all just robots programmed abritrarily by nature's genetic code
'Mark' Aviva Victor: Isn't there any hope?
Mark Wiener: For what? We hope or despair because of the way we've been programmed. Genes and randomness, that's all there is and none of it matters.
'Mark' Aviva Victor: Does that mean you're never going get married and have children?
Mark Wiener: I have no anent desire to get married or have kids. But that's beyond my control. Really, it makes no difference. Since the planet's fast running out of natural resources and we won't make it into the next century.
'Mark' Aviva Victor: What if you're wrong? What if there is a God?

A HOME AT THE END OF THE WORLD
29 Juni 2006, Pk. 15:00

Sutradara: Michael Mayer
Sebuah klise dari kehilangan orang-orang yang sangat kita sayangi. Tapi bukankah hidup seringkali membuat kita melakukan dan bereaksi secara klise. Hey, come on, we're only human, arent we? Nikmatilah ke klisean itu.

Film bulan Juni pilihan: tarlen