Saturday, February 10, 2007

Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004)

"You can erase someone from your mind, getting them out of your heart, is another story" Kolaborasi kedua Charlie Kaufman (penulis cerita) dan Michael Gondry (sutradara), setelah film pertama mereka Human Nature. Film dimana Jim Carey dan Kate Winslet beradu akting dengan serius. Jika berharap Carey, muncul dengan kekonyolan karakter, film ini bukan tentang itu.

Dengan cara bercerita Charlie Kaufman yang khas dan eksperimentasi Gondry dalam penggarapan video musik, dan tentu saja pemilihan Jim Carey sebagai bintang utamanya, dan perpaduan ini jadinya dasyat. Kaufman selama ini senang sekali mengaduk-ngaduk ingatan tokoh-tokohnya, sehingga batas-batas pengalaman nyata dan imajinasi menjadi kabur.

Tentunya, sesuai dengan quote yang aku tulis di atas, film ini tentunya berkisah tentang proses orang-orang yang saling mencintai, mengingat kenangan yang menyengkan dan melupakan hal-hal yang menyakitkan. Tapi bisakah kenangan-kenangan buruk itu benar-benar di hapus? Bagaimana proses mengingat dan menghapus kenangan-kenangan itu dan segala kemungkinan-kemungkinannya, itulah yang dieksplorasi oleh Gondy dan Kaufman. (tarlen)

Friday, February 09, 2007

Hiding and Seeking (2004)

Sutradara Menachem Daum and Oren Rudavsky. Tentang tiga generasi dalam keluarga yahudi ortodok naratornya adalah generasi kedua. Dia seperti jadi jembatan antara bapaknya yang mengalami holocaust dan anaknya yang tidak lagi mempersoalkan mimpi buruk sejarah itu karena buat anaknya ga kebayang aja gimana rasanya holocaust. Nah generasi kedua kemudian menjembatani pengalaman itu. Dia mengajak anaknya untuk melacak jejak kakeknya (generasi pertama) ke polandia, juga mengunjungi keluarga yang menyelamatkan kakeknya itu dari kejaran tentara NAZI, dengan cara menyembunyikan kakeknya dan dua sodaranya yang lain di sebuah lubang yang tertutup jerami. Yang menarik dari film ini kemudian adalah proses transformasi pengalaman sejarah antara generasi pertama(yang mengalami langsung) dan generasi ketiga yang dibesarkan oleh mitos sejarah. Bagaimana kemudian generasi ketiga setelah proses transforamasi itu terjadi, justru bisa melihat sisi lain dari mimpi buruk sejarah. Kemudan sisi gelap itu bisa dilihat lebih positif dan sejarah kemudian memberikan tawaran untuk untuk berdamai dengan mimpi buruk itu. Apalagi dalam konteks bangsa yahudi, setidaknya, film ini bisa memberikan pandangan lain untuk menyembuhkan luka-luka sejarah tanpa membuat luka baru. Seperti film promises.

Selama ini agama (dan kemudian Tuhan) selalu disalahkan atas mimpi-mimpi buruk sejarah. Agama menjadi atas nama masalah peradaban. Dan ketika orang menghadapi jalan buntu dengan agama, orang lupa, bahwa mereka bisa menggali sisi yang lain untuk melihat jalan keluarnya. Kupikir ini adalah tantangan peradaban kita sekaran ini. Kupikir mungkin jawababannya sama seperti yang dibilang pi patel dalam life of pi, ketika tiga pemuka agama bersitegang mempertanyakan kenapa pi menjalankan ritual 3 agama sekaligu (islam, Kristen, hindu) pi membarikan jawaban yang sederhana tapi kupikir sangat menyetuh esensi dari persoalannya: itu semua karena aku ingin mengasihi Tuhan. Aku sendiri sejauh ini merasa buntu dengan pengejawantahan agama dalam kehidupan sehari-hari karena aku sulit menangkap esensinya, tapi aku percaya agama bisa menawarkan banyak hal yang aku tidak bayangkan sebelumnya dan itu semua karena untuk memenuhi kebutuhan hakiki manusia untuk berTuhan. Kenapa aku sebut itu kebutuhan hakiki, secara jujur, persoalan yang paling menggelisahkan umat manusia adalah ketika dia mempertanyakan dirinya, mempertanyakan keberadaannya di dunia ini, dan persoalan inilah yang kemudian membawa setiap individu mengenali Tuhannya. Paham atau tidak terhadap keberadaan Tuhan, kupikir tergantung dari kesabaran individu untuk mau memahami hidup yang dia jalani.(tarlen)

(review dari blogku yang lama, 25 Januari 2005)

11'09"01

Sebuah kompilasi film pendek yang dibuat untuk merespon peristiwa 11 september 2001 yang dibuat untuk memperingati setahun tragedi 9/11. Ada Youssef Chahine/Mesir, Amos Gitai/Israel, Alejandro Gonzales Inarritu/Meksiko, Paul Laverty/UK, Sabrina Dhawan/India, Claude Lelouch/Perancis, ken Loach/UK, Samira Makhmalbaf/Iran, Idrissa Oeudraogo/Bukrina Faso, Sean pean/USA, Marie-Jose Sanselme/Israel, Danis Tanovic/Bosnia Herzegovina, daisuke Tengan/Jepang, Pierre Uyterrhoeven/Perancis, Vladimir Vega/UK), masing-masing bikin film berdurasi 11 menit. Banyak hal menarik di kompilasi ini, terutama bagaimana masing-masing sutradara dari berbagai negara itu, merespon 9/11 dengan perspektif dan pandangan dunianya masing-masing.

Beberapa diantaranya menurutku cukup kritis melihat peristiwa ini. Karya Amos Gitai dari Israel salah satunya. Amos memotret 9/11 lewat sebuah peristiwa meledaknya bom mobil di pasar loak, di salah satu sudut kota Jerusalem. Polisi, ambulance, masyarakat sekitar tampak heboh dengan kejadian itu. Seorang reporter televisi berusaha meliput peristiwa itu secara langsung. Namun tak ada satupun yang orang di tempat kejian yang bisa memberikan keterangan dengan pasti. Sampai dia mulai melantur tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di tangal 11 September: "on sept 11th, 1777, washington was taken by the english, on sept 11th 1855 French took malakoff, on sept 11th 1944, Roselvet and churchill met and devided nazi germany into three parts: British, American, Russian. On Spet 11th, 1997. Lighting killed 19 people in India.." dan ketika editornya bilang, bahwa si reporter tak bisa on air, karena sesuatu yang serius tengah terjadi di New York, si reporter marah-marah dan ga mau tau seiring dengan kehebohan di sudut pasar loak yang berangsur-angsur normal kembali. Yeah, kita bisa menafsir banyak hal disitu. Bagiku pribadi, itu adalah cerminan bagaimana masyarakat Israel yang selama ini selalu jadi anak emas barat, ga ambil pusing dengan apa yang terjadi pada 11 september 2001.

Film lainnya yang cukup reflektif dan menampar pemerintah Amerika sendiri adalah karya Sean Pean (USA). Aktor gaek ini membuat sebuah film pendek yang ga ngomong sepatah katapun tentang peristiwa itu. Dia ngomong pake bahasa visual yang sangat kena dan nampar. Ada satu kata yang kena banget "you need a light to wake up.." film karyanya ini, sempat dilarang pemutarannya di Amerika oleh pemerintahan Bush, karena dianggap tidak sensitif terhadap perasaan rakyat AS pada saat itu.

Film yang banyak disalah pahami, adalah karya Alejandro Gonzales Innarittu (my favorite director). kenapa aku bilang disalah pahami, karena dari beberapa screening, penonton selalu mengira kalo film itu rusak.. karena memang gambarnya tv yang antenenya ga jelas gitu.. jadi gambarnya cuma semut dan ada kilasan-kilasan gambar dari peristiwa 9/11 itu. Ga ada teks atau narator disitu. Tapi menurutku, karyanya Innarittu ini yang paling sublim merespon peristiwa 9/11 ini.

Sisanya, silahkan tonton dan bandingkan, bagaimana masing-masing merespon dan mengingat peristiwa itu.