Friday, February 25, 2005

Dancer in The Dark



Selma (Bjork), seorang imigran dari Eropa Timur yang pindah ke Amerika. Dengan latar tahun 1964 di Washington. Selma bekerja siang dan malam untuk menyelamtkan anaknya dari penyakit yang sama dengan yang dideritanya, penyakit yang bisa menyebabkan dirinya buta.
Tapi Selma memiliki banyak kekuatan untuk bertahan hidup karena rahasia pribadinya! Ia sangat menyukai musik. Ketika hidup terasa sulit, ia akan berpura-pura hidup di dunia musikal.. hanya untuk beberapa saat. Semua kebahagiaan hidup akan ditemukan oleh dirinya dalam dunia kepura-puraannya itu.
Ketika tetangganya putus asa dan mencuri semua simpanan Selma, drama hidupnya berubah secara drastis menjadi sebuah akhir yang sangat tragis.
Lars Von Trier, sutradara film ini yang merupakan sutradara film teater DogVille, selalu memiliki tema yang kontroversial. Merupakan prestasi tersendiri ketika Tries berhasil mengajak Bjork untuk terlibat langsung dalam pembuatan film sebagai bintang utama sekaligus music directornya.

Friday, February 18, 2005

The Indian Runner



Sutradara & Penulis Skenario : Sean Penn
Genre : Drama
Produksi (tahun) : MGM (US, 1991)
Durasi : 126 Menit

Life has no other discipline to impose, if we would but realize it, than to accept life unquestioningly. Everything we shut our eyes to, everything we run away from, everything we deny, denigrate, or despise, serves to defeat us in the end. What seems nasty, painful, evil, can become a source of beauty, joy, and strength, if faced with an open mind. Every moment is a golden one for him who has the vision to recognize it as such.
Henry Miller (1891 - 1980)
Diilhami oleh lagu Bruce Springsteen Highway Patrolman dan tribute kepada sinema independent Amerika pada tahun 70an khususnya John Cassavetes debut pertama Sean Penn sebagai sutradara adalah sebuah tour de force. Berlatar belakang sebuah kota kecil di Nebraska di tahun 1968, dibawah bayang-bayang perang Vietnam. The Indian Runner bercerita tentang dilema yang harus dialami oleh Joe (David Morse) sebagai seorang peneegak hukum sedangkan Frank (Viggo Mortensen) adiknya seorang veteran perang Vietnam yang baru saja kembali ke kampung halaman adalah seorang pemuda dengan reputasi sebagai pembuat onar yang berulangkali harus berurusan dengan hukum.
Menarik untuk melihat betapa dua karakter yang begitu berseberangan, Joe seorang ayah, kepala keluarga yang hangat dan penuh kasuh sayang sehari-harinya bekerja sebagai sheriff dan Frank pemabuk dan pembuat onar yang kembali lagi ke kampung halamannya sebagai veteran perang Vietnam berusaha untuk saling memahami namun usaha tersebut terhalang oleh perbedaan sifat dan karakter yang mendasar diantara mereka, tercermin dari kalimat getir Frank bahwa di dunia ini hanya ada pahlawan dan penjahat.
Keinginan Frank untuk berubah terhalang oleh kebiasaan buruknya dengan minuman keras, kehadiran Dorothy (Patricia Arquette) sebagai kekasih yang setia sedikit menolong Frank untuk berubah apalagi ketika ia menyadari bahwa Dorothy mengandung kekerasan hati Frank sedikit melunak namun seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun akhirnya kisah cinta mereka harus berakhir tragis.
Joe pun walau digambarkan nyaris sempurna ternyata juga memiliki masalah, sebelum menjadi polisi ternyata dia adalah seorang petani namun akibat hutang dia harus kehilangan ladangnya. Film ini dengan jujur mempertanyakan mitos kelelakian (maskulinitas) yang selama ini cenderung justru membelenggu kaum pria, kehilangan ladang bagi seorang petani seperti Joe bukan saja membuatnya secara finansial impoten namun kehilangan ladang dapat juga dianalogikan sebagai kastrasi yang membuat imaji kelelakiannya (maskulinitas) tidak utuh, hal ini nampak pada percakapan antara Joe dan Frank ketika mereka mengunjungi bekas ladang Joe.
Kemampuan Penn yang patut diacungi jempol adalah bagaimana dia mampu menggambarkan karakter-karakter dalam film ini dengan begitu manusiawi tanpa harus terjebak untuk mensteriotipkan karakter atau cerita yang sebenarnya berpeluang besar untuk jatuh ke dalam perangkap tadi : Joe penegak hukum, kepala keluarga à (good guy), Frank pemabuk, misantropi / anti-sosial à (bad guy), cerita yang sepintas mirip dengan film-film melodrama klasik Hollywood : Rebel Without a Cause, East of Eden. Acungan jempol juga patut kita berikan pada kedua pemeran utama film ini David Morse (Joe Roberts) dan Frank Roberts (Viggo Mortensen) yang mampu memerankan karakter-karakter mereka dengan begitu tulus dan jernih, catatan khusus untuk Viggo Mortensen yang pada film ini mampu menunjukkan bahwa sebenarnya jika mendapat peran yang tepat ia dapat membuktikan dirinya adalah aktor dengan bakat yang besar sayangnya ia kemudian jatuh pada peran steriotip yang kurang dapat mengakomodasi kemampuannya tersebut seperti peran Aragon (Lord of The Rings Trilogy).
Akhir kata The Indian Runner adalah sebuah film yang mampu menunjukkan momen-momen mendebarkan ketika manusia dengan ketulusannya dan keringkihannya berusaha untuk saling memahami, mencintai namun sayangnya usaha tersebut seringkali tidak berjalan mulus bahkan gagal dan Sean Penn tidak takut untuk menunjukkan pada kita kegagalan tersebut, sebuah kejujuran yang sudah sangat langka kita temukan di dunia ini apalagi di Hollywood. (TC, 2005)

Friday, February 11, 2005

Central Station


Sutradara : Walter Salles
Penulis : Marcos Bernstein & João Emmanuel Carneiro
Genre : Drama
Durasi : 113 menit

Dalam film ini, kita dapat melihat sisi lain dari kota Brasil yang terjebak dalam situasi kota yang hiruk pikuk dengan segala macam mimpi yang ditawarkan. Kamera berhasil mengambil garis mata dan lusuhnya setiap wajah, gerak tubuh dan harapan dibalik kerasnya bagian dari kota Rio yaitu Station Kereta Api.
Dari ribuan pencari mimpi, disalah satu sudut stasion kereta terdapat seorang perempuan yang bernama Dora (Fernanda Montenegro) memberikan harapan berupa menuliskan surat bagi orang-orang yang tak bisa menulis dan membaca. Hanya sayangnya Dora melakukan kecurangan dengan memanfaatkan kebodohan orang-orang ini untuk mendapatkan uang sebab tak ada satu suratpun dilayangkan bagi yang dituju. Disinilah Dora bertemu dengan seorang wanita sambil membawa seorang anak yang bernama Josué (Vinicius de Oliveira) lalu minta tolong padanya untuk menuliskan surat untuk suaminya. Sampai pada suatu waktu, wanita tersebut datang lagi bersama Josué meminta dituliskan surat lagi sampai suatu hal terjadi saat mereka berdua menyelesaikan urusan dengan Dora. Ibu dari anak ini mendapat kecelakaan hingga meninggal. Tinggalah Josué terlantar di Station Kereta Api sebelum akhirnya dibawa oleh Dora.
Film ini sangat bagus untuk ditonton, sepanjang film ini anda akan terlibat pengalaman emosional dari berbagai situasi antara Josué dan Dora. Bagaimana Dora bekas guru yang selama ini hidup sendirian dalam sebuah apartemen kumuh dan selalu berinteraksi dengan kerasnya lingkungan sekitarnya lalu terpaksa membawa Josué yang mempunya karakter anak yang cerdas, baik dan jujur untuk hidup bersamanya. Berbagai situasi terjadi, perdebatan antar keduanya tak dapat dipungkiri sampai membawa mereka berdua dihadapkan pada pengalaman yang menarik.
Sebuah alur yang sangat sederhana yang dikemas dengan situasi artistik yang berbeda-beda sehingga membawa kita melihat suasana Brazil yang kental. Begitu pula dalam film ini, kekuatan pemain dalam mengolah penokohannya membuat kita terbawa dalam emosi.

Friday, February 04, 2005

Talk To Her


Sutradara : Pedro Almodovar
Penulis : Pedro Almodovar
Genre : Drama
Durasi : 113 Menit

Salah satu film yang dikemas dengan cantik dilayangkan oleh sutradara Spanyol. Pedro Almodovar sebagai pembuat film “All About My Mother” mengangkat tema sederhana namun kemasan cerita itu sendiri tak sesederhana tema itu sendiri. Pedro Almodovar mengangkat situasi pada dua laki-laki dalam menghadapi perempuan yang dicintainya.
Sebuah kisah cinta yang tak biasa dengan kemasan yang sangat unik. Baik dari pengambilan gambar yang mewakili keindahan yang tak biasa dilihat, permainan emosional dari musik spanyol yang mengisi situasi adegan, karakter tiap tokoh yang dibawakan dengan pas. Ada saatnya penonton terhanyut pada suasana kesepian, kemarahan akibat cinta yang mendalam.
Dalam film ini, ada dua kasus laki-laki yang mencintai perempuan yang berbeda. Hal yang menarik, Pedro Almodóvar mengangkat dua perempuan dengan profesi yang sangat jauh berbeda. Perempuan yang satu adalah seorang penari sedangkan yang satunya lagi seorang matador. Masing-masing dengan kekuatan dan kelemahan yang berbeda dan bagaimana kedua laki-laki ini menyikapi emosinya dalam menghadapi masing-masing yang dicintanya sehingga kedua perempuan tersebut kecelakaan dan koma dalam waktu yang sangat lama.
Pedro Almodóvar seperti berusaha menjelaskan bagaimana pengaruh cinta dapat menjebak seseorang untuk melakukan suatu tindakan irasional dalam melampiaskan perasaannya.
Dalam film ini dapat ditemukan situasi-situasi yang dramatik, lucu, kesunyian, kemarahan dan kekuatan ambisi setiap tokoh.