Friday, February 18, 2005

The Indian Runner



Sutradara & Penulis Skenario : Sean Penn
Genre : Drama
Produksi (tahun) : MGM (US, 1991)
Durasi : 126 Menit

Life has no other discipline to impose, if we would but realize it, than to accept life unquestioningly. Everything we shut our eyes to, everything we run away from, everything we deny, denigrate, or despise, serves to defeat us in the end. What seems nasty, painful, evil, can become a source of beauty, joy, and strength, if faced with an open mind. Every moment is a golden one for him who has the vision to recognize it as such.
Henry Miller (1891 - 1980)
Diilhami oleh lagu Bruce Springsteen Highway Patrolman dan tribute kepada sinema independent Amerika pada tahun 70an khususnya John Cassavetes debut pertama Sean Penn sebagai sutradara adalah sebuah tour de force. Berlatar belakang sebuah kota kecil di Nebraska di tahun 1968, dibawah bayang-bayang perang Vietnam. The Indian Runner bercerita tentang dilema yang harus dialami oleh Joe (David Morse) sebagai seorang peneegak hukum sedangkan Frank (Viggo Mortensen) adiknya seorang veteran perang Vietnam yang baru saja kembali ke kampung halaman adalah seorang pemuda dengan reputasi sebagai pembuat onar yang berulangkali harus berurusan dengan hukum.
Menarik untuk melihat betapa dua karakter yang begitu berseberangan, Joe seorang ayah, kepala keluarga yang hangat dan penuh kasuh sayang sehari-harinya bekerja sebagai sheriff dan Frank pemabuk dan pembuat onar yang kembali lagi ke kampung halamannya sebagai veteran perang Vietnam berusaha untuk saling memahami namun usaha tersebut terhalang oleh perbedaan sifat dan karakter yang mendasar diantara mereka, tercermin dari kalimat getir Frank bahwa di dunia ini hanya ada pahlawan dan penjahat.
Keinginan Frank untuk berubah terhalang oleh kebiasaan buruknya dengan minuman keras, kehadiran Dorothy (Patricia Arquette) sebagai kekasih yang setia sedikit menolong Frank untuk berubah apalagi ketika ia menyadari bahwa Dorothy mengandung kekerasan hati Frank sedikit melunak namun seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun akhirnya kisah cinta mereka harus berakhir tragis.
Joe pun walau digambarkan nyaris sempurna ternyata juga memiliki masalah, sebelum menjadi polisi ternyata dia adalah seorang petani namun akibat hutang dia harus kehilangan ladangnya. Film ini dengan jujur mempertanyakan mitos kelelakian (maskulinitas) yang selama ini cenderung justru membelenggu kaum pria, kehilangan ladang bagi seorang petani seperti Joe bukan saja membuatnya secara finansial impoten namun kehilangan ladang dapat juga dianalogikan sebagai kastrasi yang membuat imaji kelelakiannya (maskulinitas) tidak utuh, hal ini nampak pada percakapan antara Joe dan Frank ketika mereka mengunjungi bekas ladang Joe.
Kemampuan Penn yang patut diacungi jempol adalah bagaimana dia mampu menggambarkan karakter-karakter dalam film ini dengan begitu manusiawi tanpa harus terjebak untuk mensteriotipkan karakter atau cerita yang sebenarnya berpeluang besar untuk jatuh ke dalam perangkap tadi : Joe penegak hukum, kepala keluarga à (good guy), Frank pemabuk, misantropi / anti-sosial à (bad guy), cerita yang sepintas mirip dengan film-film melodrama klasik Hollywood : Rebel Without a Cause, East of Eden. Acungan jempol juga patut kita berikan pada kedua pemeran utama film ini David Morse (Joe Roberts) dan Frank Roberts (Viggo Mortensen) yang mampu memerankan karakter-karakter mereka dengan begitu tulus dan jernih, catatan khusus untuk Viggo Mortensen yang pada film ini mampu menunjukkan bahwa sebenarnya jika mendapat peran yang tepat ia dapat membuktikan dirinya adalah aktor dengan bakat yang besar sayangnya ia kemudian jatuh pada peran steriotip yang kurang dapat mengakomodasi kemampuannya tersebut seperti peran Aragon (Lord of The Rings Trilogy).
Akhir kata The Indian Runner adalah sebuah film yang mampu menunjukkan momen-momen mendebarkan ketika manusia dengan ketulusannya dan keringkihannya berusaha untuk saling memahami, mencintai namun sayangnya usaha tersebut seringkali tidak berjalan mulus bahkan gagal dan Sean Penn tidak takut untuk menunjukkan pada kita kegagalan tersebut, sebuah kejujuran yang sudah sangat langka kita temukan di dunia ini apalagi di Hollywood. (TC, 2005)

No comments: